Cerita Dongeng pergi ke Arab

Saya pernah mendengar paling sedikit dua buah dongeng tentang tokoh asal Nusantara yang pergi ke Arab, saya harap pembaca hanya menanggapi dongeng-dongeng yang saya ceritakan di pos ini sebagai dongeng semata hasil ketidak tahuan nenek moyang kita tanpa pelu menghujat nenek moyang kita yang sudah brjuang.

Dua buah cerita yang saya maksud adalah cerita perjalanan syarifah Mudahim yang menikah dengan Sultan Mesir dari Bani Hasyim yang menguasai BANI ISRAIL , PRLU DIINGAT SAYA TIDAK BERMAKSUD MENGHINA ATAU MENGHUJAT hanya berusaha menjealskan cerita yang ada secara rasional berdasarkan fakta yang ada . karena apabila suatu hari ditemukan bahwa cerita-cerita yang ada di sini tidak sesuiai dengan fakta yang ada mungkin orang-orang akan menolak mentah-mentah semua cerita yang sudah diwariskan secara turun-temurun .  Memang pada cerita yang saya baca terdapat bebeapa ketidak sesuaian dengan fakta sejarah yang ada sehingga sangat mungkin jika suatu saat cerita yang saya sebutkan disini ditolak secara total oleh generasi muda. Saya sendiri berpandangan bahwa cerita-cerita yang saya bahas di bawah ini benar-benar terjadi hanya saja terjadi sedikit kesalahan pada identitas para tokoh karena keterbatasan informasi yang ada pada zaman dulu. Mohon Maa apabila terdapat kesalahan pada penilaian saya ini .

Pertama-tama saya akan membahas tentang ketidak sesuaian yang ada di cerita rakyat Sunan Gunung Jati dengan fakta siapakah penguasa mesir yang menjadi ayah dari Sunan Gunung Jati .di dalam cerita tersebut diceritakan bahwa SyarifahMudaim menikah dengan Sultan Bani Hasyim di Mesir, padahal yang kita ketahui pda tahun-tahun tersebut yang menguasai Mesir adalah Daulah Mamalik atau dalam Bahasa Inggris Mamelukes , negara muslim yang pendirinya berasal dari budak-budak asal Asia Tengah dan Eropa Timur , berarti yang memegang kontrol efektif di Mesir adalah Mamalik dan bukan BANI HASYIM MESKIPUN DEMIKIAN , JIKA ANDA MEMBACA SECARA TELITI sebenarnya pada masa itu ada Bani Hasyim yang tinggal di Mesir setelah Baghdad dihancurkan oleh Mongol yaitu Khalifah Abbasiyah yang hanya memegang fungsi simbolis dan kekuasaan dijalankan oleh Mamalik , namun Bani Abbas adalah keturunan dari Ali bin Abi Thalib tetapi tidak menutup kemungkinan banyak keturunan Alawiyin yang menetap di Mesir dan diperlakukan secara terhormat layaknya para pejabat negara , bisa jadi penyebutan gelar Sultan Mesir adalah penyederhanaan ,akan sulit jika suatu cerita rakyat harus menjelaskan adanya suatu posisi di dalam negara yang sebenarnya tidak meiliki peranaan apapun tetapi dihormati sebagai simbol , tidak terbayang susahnya apabila nenek moyang kita harus menceritakan kedudukan sebenarnya dari sang Sultan Mesir di dalam cerita kepada rakyat yang masih awam akan dunia luar , mungkin bagi rakyat yang di zaman itu masih awam satu-satunya orang yang bissa dihormati seperti raja hanyalah raja saja , tidak terbesit sedikitpun di dalam benak rakyat waktu itu tentang adanya kedudukan yang tidak memerintah negara tetapi hanya menjadi simbol saja , oleh karena itulah nenek moyang kita menyederhanakan kedudukan tersebut sebagai Sultan Mesir dan memang secara Simbolis Bani Hasyim adalah pemimpin di Mesir meskipun secara de FACTO kekuasaan ada di tangan bani Mamalik atau Mamelukes. 

Cerita yang cenderung menyederhanakan fakta seperti di atas juga ditemukan dalam cerita tetang sang Singa Allah , Hamzah bin Abdulmuthalib R.A versi Jawa atau di dalam Bahasa Jawa disebut sebagai Amir Ambyah(maksudnya Amir Hamzah) , di dalam cerita tersebut terdapat keganjilan seperti AbdulMuthalib kakek dari Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam disebut sebagai Adipati Mekkah dan Al-Wahsyi budak asal Eithiopia disebut sebagai Raja Jenggi , sebuah keanehan yang tidak hanya membuat orang menjadi heran tetapi juga bisa memicu kemarahan , bagaimana bisa ada gelar seperti adipati Mekkah dan Raja Jenggi apalagi orang yang diberi gelar raja merupakan seorang budak, sebuah penyimpangan yang luar binasa  biasa . Yang saya tangkap dari cerita itu adalah , masyarakat Jawa ketika cerita tersebut dituturkan belum mengenal dunia luar dan hanya mengetahui negara seperti negara yang ada di Pulau Jawa dengan jabatan seperti raja ,adipati, tumenggung, mantri . patih dan sebagainya .tentu dengan pengetahuan yang sangat terbatas ini Orang Jawa pada masa itu bisa kebingungan apabila dijelaskan posisi AbdulMuthalib yang sebenarnya sebagai pemimpin Kota Mekah yang jelas berbeda dengan sistem pemerintahan Kerajaan Jawa yang feodal yang hanya mengenal jabatan raja  dan sebagainya . Pemimpin Mekah jelas bukanlah raja atau yang dalam bahasa Arab disebut sebagai Malik karena memang pemimpin Mekkah tidak berdasarkan dari keturunan dan di Kota Mekah ada Majelis pembesar Quraisy di Darun-Nadwah , sebuah sistem yang jauh berbeda dari Monarki Jawa . karena itulah mungkin daripada masyarakat kebingungan dijelaskan bahwa kakek dari Rasullulah adlah seorang adipati karena beliau adalah pemimpin dan gelar raja dirasa tidak cocok denga beliau . begitu juga dengan gelar Raja Jenggi dari AL-WAHSYI , kita tahu orang Jawa pada masa itu dan juga sampai sekarang masih menganggap penting strata sosial , di dalam cerita-cerita rakyat Jawa seorang raja atau seorang yang memiliki kedudukan yang tinggi pasti dalam pertempuran berhadapan dengan orang yan memiliki kedudukan yang setara , mungkin bagi Orang Jawa di zamn itu akan terasa sangat aneh apabila seorang paman dari Rasullulah yang memiliki kedudukan sangat mulia justru gugur ditangan seorang budak , tentu saja pandangan seperti ini salah karena mendistorsi fakta yang ada , tetapi kita cukup memahami bahwa alam pikiran masyarakat di zaman itu belum semaju sekarang . istilah Raja Jenggi sepertinya diambil dari istilah Zanj yang artinya adalah orang afrika yang berasal dari pantai timur afrika , mungkin istilah ini sulit dilafalkan oleh lidah orang Jawa zaman itu sehingga berubah menjadi jenggi , sebuah kata yang juga meruapakn sinonim dari hitam , sekarang kata ini sudah jarang ditemukan .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s