Kucing dan pembangunan kota

F:,5&f7# 😙😱0

Gambar yang tidak sengaja saya gabungkan di arsip Instagram, kiri asalnya adalah kucing berdoa untuk pEnyayangnya , kanan apartemen baru di Tembalang

Kota Semarang sudah semakin maju dan naik kelas , sudah berbeda dari duapuluh tahun yang lalu ketika saya masih kecil, berbagai infrastruktur baru dibuat dan fasilitas lama diperbaiki, namun ada satu hal yang kurang menggenakkan, banyak kucing buang air besar sembarangan.

Foto asal comot dari instagram

Ketika Di Sekitar perumahan saya masih banyak terdapat kebun dan tanah lapang , Kucing-kucing di sekitar lingkungan saya biasa menunaikan hajat di sana. Sekarang setelah pemukiman semakin padat sebagian warga mengeluh kerena sering mendapati kotoran kucing di halaman rumah , sebenarya soal kotoran bukan cuma kotoran kucing saja yang menjadi masalah, manusia bisa mencemari air tanah dengan tinjanya, hal seperti itu sudah terjadi di Jakarta beberapa tahun yang lampau, tapi karena tulisan ini ditujukan untuk kucing saya bahas soal kucing saja, kota-kota besar lain di Indonesia sudah mengalami masalah dengan hewan liar sejak beberapa tahun yang lalu, Kota Semarang mungkin juga akan mengalami masalah yang sama dalam sepuluh tahun ke depan, penanganan hewan liar seperti kucing bukan hal yang mudah dan akan semakin berat bila sudah kasep , biasanya kucing dan anjing liar memiliki tempat penampungan, ada juga yang memiliki ide untuk menstrelilkan kucing agar tidak beranak terus, tapi ide semacam itu disangsikan secara agama dan etika.

Menguak 5 Dusun yang Hilang di Desa Kalongan Ungaran Timur: Antara Longsor Abadi dan Harta Karun Peradaban yang Ditemukan

Pembuka

Skrinsut longsoran Kalongan dari Gedawang
Skrinsut Foto yang diupload salah satu pengguna instagram soal longsoran besar di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur yang sampai bisa terlihat dari Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah. Longsoran ini hampir mengenai jalan Demak-Kabupaten Semarang.
Longsoran Desa Kalongan Ungaran dari Angkringan Atap Langit Perumahan Villa Krista Gedawang
Longoran di Kalongan dan Bangunan di Driving Range Wana Wisata Penggaron
Bangunan di Driving Range di Wana Wisata Penggaron dan Longsoran di Kalongan tersebut
Longsoran Kalongan dari Villa Krista
Longsoran Desa Kalongan dari sudut lain Perumahan Villa Krista Gedawang. filter: 0; fileterIntensity: -0.01; filterMask: 0; hdrForward: 0; module: night;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 41;
Longsoran Kalongan
Longsoran tersebut dari Perumahan Villa Krista Gedawang, terlihat di sini bahwa area longsoran itu sangat luas. filter: 0; fileterIntensity: -0.01; filterMask: 0; hdrForward: 0; module: night;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 41;
Longosoran Kalongan dari Masjid An Nur Gedawang Permai 3
Longsoran Kalongan dari Msjid Annur Villa Krista Gedawang. Kurang terlihat karena terutupi oleh pepohonan. filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; hdrForward: 0; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (0.02638889, 0.321875);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 37;

Bencana tanah longsor kembali melanda Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Pada Februari 2026, area longsoran dilaporkan telah mencapai 5 hektare, dengan jarak bibir longsor hanya 15 meter dari pemukiman warga. Sedikitnya 15 rumah di dekat mahkota longsor terancam dan pemerintah menyiapkan hunian sementara (huntara).

Bagi warga luar, ini mungkin terlihat sebagai bencana baru. Namun bagi warga Kalongan, ini adalah pengulangan sejarah yang sudah terjadi lebih dari seabad. Longsor inilah yang membuat desa ini dijuluki memiliki “Harta yang Hilang”.

[BAGIAN 1: Kalongan, Desa di Atas Tanah Bergerak]

Secara administratif, Kalongan adalah desa di Ungaran Timur dengan luas 863,3 hektare dan penduduk 8.672 jiwa.

Sejarahnya sendiri sudah lekat dengan perpindahan. Berdasarkan cerita turun temurun, desa ini dibuka sekitar 1825-1830 oleh prajurit Pangeran Diponegoro. Awalnya hanya ada tiga desa induk: Kajangan, Mendiro, dan Kalongan, yang kemudian digabung.

Sekitar tahun 1910, bencana longsor besar pertama yang tercatat membuat beberapa desa di sekitarnya seperti Tugusari, Jeruksiring, dan Pangayuhan harus direlokasi total menjadi Dusun Ngaliyan dan Rejowinangun. Namun hingga kini, kedua dusun tersebut pun masih berada di atas tanah gerak.

Artinya, fenomena tanah labil di Kalongan bukanlah fenomena baru.

[BAGIAN 2: 5 Dusun yang Hilang – Harta yang Sebenarnya]

Inilah yang diangkat oleh kreator Eko Budi Z dalam video eksplorasinya berdurasi 30 menit berjudul “Harta yang HILANG di Desa Kalongan Ungaran Timur”.

Dari penelusuran peta Belanda tahun 1941 (Distrik Ungaran, Desa Kalongan) dan kesaksian warga lokal, terungkap ada 5 dusun yang kini sudah tidak berpenghuni dan hilang dari peta:

1. Dusun Candi 2. Dusun Dadapayam (bukan yang di Tengaran/Salatiga) 3. Dusun Jerukwangi 4. Dusun Gumuklanggar 5. Dusun Kothakombo

Dusun-dusun ini bukan hilang karena mistis, melainkan karena faktor geologis yang sama: pengikisan tanah yang terus-menerus. Sisa-sisanya kini hanya berupa toponimi (nama tempat), makam-makam tua di atas bukit seperti yang ditemukan di kawasan perbukitan Semarang, dan cerita lisan.

Seperti yang ditulis di kolom komentar videonya: “Dari hasil penelusuran, 5 dusun yang hilang itu dusun Candi, Dadapayam, Jerukwangi, Gumuklanggar, Kothakombo.”

Video dari Kanal Youtube milik Pak Eko Budi Z

[BAGIAN 3: Penemuan Yoni – Bukti Peradaban Tua]

Yang membuat eksplorasi Pak Eko Budi Z menarik adalah temuannya.

Pak Eko Budi dan Yoni di Sungai

Berawal dari laporan warga bernama Mas Freddy yang menemukan bongkahan batu kotak berlubang di tengah hutan lindung Ungaran Timur, Eko menelusuri lokasi tersebut.

Batu tersebut teridentifikasi sebagai Yoni, alas Lingga dalam kepercayaan Hindu kuno. Ciri-cirinya:

  • Terbuat dari batu putih yang rentan patah
  • Memiliki lubang kotak pengunci sedalam 60 cm dengan lebar sisi 40 cm
  • Kondisi aus dan patah di beberapa bagian

Yoni ini sudah berpindah sekitar 800 meter dari lokasi aslinya karena terbawa arus banjir besar. Sungai di lokasi tersebut merupakan pertemuan beberapa anak sungai dari Dawung, Ngemplak, Susukan dan Kalongan, sehingga saat musim hujan arusnya sangat deras.

Temuan ini menguatkan dugaan: Dusun Candi yang hilang itu memang dulunya adalah pusat peradaban. Nama “Candi” bukan sekadar nama, melainkan indikasi adanya struktur pemujaan Hindu untuk kesuburan. Lingganya sendiri belum ditemukan, kemungkinan masih tertimbun atau hancur terbawa arus.

Ini sejalan dengan temuan di kawasan perbukitan Semarang lainnya di mana banyak makam tua dan struktur di atas bukit yang menandakan peradaban yang hilang.

[BAGIAN 4: Mengapa Longsor di Kalongan Terus Terjadi?]

Mengapa 5 dusun bisa hilang dan longsor terus berulang hingga 2026?

Berdasarkan kajian Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah dan pengamatan di lapangan:

1. Struktur Tanah Labil: Tanah di Kalongan tergolong tanah gerak (labil). Bukan tanah keras yang stabil.
2. Air Bawah Tanah dan Aliran Sungai: Keberadaan aliran sungai di bawah permukaan dan rembesan air hujan mempercepat pergerakan tanah. Saat musim hujan, tanah menjadi jenuh air dan mudah longsor.
3. Kontur Perbukitan dan Curah Hujan Tinggi: Ungaran Timur adalah daerah perbukitan dengan kemiringan curam. Deforestasi dan alih fungsi lahan memperparah erosi.
4. Minimnya Pencegahan Jangka Panjang: Seperti keluhan warga Dusun Bandungan, sejak longsor pertama 2022 belum ada penanaman pohon penguat tebing atau bronjong yang signifikan.

Kombinasi inilah yang membuat Kalongan seperti “mangkuk yang retak” – setiap hujan besar, retakan lama akan kembali terbuka.

[PENUTUP]

Longsor di Desa Kalongan hari ini adalah bab terbaru dari buku yang sama. Lima dusun yang hilang – Candi, Dadapayam, Jerukwangi, Gumuklanggar, Kothakombo – adalah pengingat bahwa alam di sini tidak pernah benar-benar diam.

Video penelusuran Eko Budi Z berhasil menggeser perspektif: yang hilang bukanlah harta emas, melainkan dusun, sejarah, dan bukti peradaban Ungaran yang sangat tua, yang salah satunya kini muncul kembali dalam wujud Yoni yang hanyut sejauh 800 meter.

Jika tidak ada penanganan geoteknik yang serius, bukan tidak mungkin daftar dusun yang hilang akan bertambah.

Apakah di desamu juga ada cerita dusun yang hilang seperti ini? Tulis di kolom komentar.

Sumber: Wikipedia Desa Kalongan, KompasTV (Longsor 5 Hektare), Espos.id (15 rumah terancam), Peta Belanda 1941, dan video Eko Budi Z

BUKIT MERGI: BUKIT YANG TERBELAH (TERSAKITI) YANG TERLIHAT DARI GEDAWANG

Catatan lanjutan dari Jurang Rau Gedawang

“Dulu di tulisan Jurang Rau saya menyebut Bukit Siceper yang dibelah untuk tol. Sekarang ada Bukit Mergi yang dibelah untuk diambil batunya. Dari Gedawang, keduanya terlihat.”

Penggaron

Posisinya memang persis di celah itu. Di Google Maps, namanya tercatat Gunung Mergi, di Desa Beji, Kec. Ungaran Timur, Kab. Semarang. Kalau di skripsi UPN Veteran Yogyakarta tahun 2008, lokasi penelitiannya ditulis jelas: PERHITUNGAN SUMBERDAYA BATU BASALT DI GUNUNG MERGI DESA BEJI KEC. UNGARAN 

Jadi bukan bukit misterius. Isinya memang batu. Batu basalt dan andesit.

Bukit Merigi dari Perumahan Gedawang Permai 3 sekarang
Bukit Merigi dari Perumahan Gedawang Permai 3, terlihat celahnya semakin besar, bukitnya tidak setinggi dulu, dan semakin banyak yang berlubang.
Bukit Merigi Sekarang
Bukit Merigi Sekarang dari Villa Krista Gedawang (2026) terlihat bagian bukit di sebelah kiri bagian yang terbelah juga sudah berlubang sangat besar. Filter: 0; fileterIntensity: -0.01; filterMask: 0; hdrForward: 0; module: night;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 41;

Secara geologi, Mergi bukan gunung yang berdiri sendiri. Sama seperti Siceper, Kendalisodo, dan Gajah Mungkur, dia adalah kerucut parasit dari Gunung Ungaran Purba. Di laporan geologi, di G. Mergi tercatat singkapan “andesit terkekarkan”. Umurnya jauh lebih tua dari Ungaran yang sekarang kita daki. Ungaran Purba dulu pernah meletus sangat besar sampai dua pertiga tubuhnya hancur, sisanya jadi bukit-bukit di utara seperti inilah. 

Foto pertama di tulisan saya tentang Jurang Rau di Gedawang Permai 3 adalah tebing dan bukit di hutan Wana Wisata Penggaron. Bukit paling jauh adalah Bukit Siceper yang dibelah untuk pembangunan Jalan Tol. Bukit itu dekat dengan Bukit Cemoro Sewu di Desa Kalongan, Ungaran. 

Kalau dari Gedawang kita melihat Siceper yang terbelah, dari arah Tol Ungaran-Bawen ada bukit lain yang nasibnya sama, bahkan lebih jelas terbelahnya. Namanya Gunung Mergi.

Deskripsi paling pas tentang bukit ini ada di video YouTube yang saya temukan: “Bukit yang Tersakiti, itulah yang sering dikatakan oleh teman-teman saya untuk menunjuk pada Bukit Mergi ini. Ketika kita melewati jalan tol dari Semarang ke Bawen, setelah Rest Area KM 429, kita akan melewati celah bukit. Nach, Bukit Mergi ini terletak di celah tersebut.”

Ini adalah video Drone dari empat tahun lalu https://www.youtube.com/watch?v=X8QSrqQ-in0 . Kemudian ada postingan dari Bapak Yohanes Christono di Fesbuk pada tahun lalu, namun linknya tidak dapat dibuka. Mungkin karena diprivat

Kenapa sekarang terbelah seperti itu?

Karena ditambang. Sejak dulu Mergi diambil batunya untuk bahan bangunan. Kalau dilihat dari dekat, tebing-tebing tinggi yang menjulang itu bagaikan tebing yang sangat kuat, karena di dalamnya terdapat bebatuan dalam ukuran yang sangat besar. Dari Tol, kita hanya melihat hasil akhirnya: bukit yang tadinya utuh, sekarang seperti dipahat vertikal.

Saya ingat foto lama di tulisan saya yang Jurang Rau, di kejauhan memang terlihat bukit-bukit yang terpotong Tol. Mergi nasibnya sama. Bedanya, kalau Siceper dipotong untuk lewatnya tol, Mergi dipotong untuk diambil isinya.

Di foto lama milik saya [sisipkan foto lama bukit Mergi yang kamu maksud di sini – foto dari Gedawang/Penggaron dengan Mergi di kejauhan], bukit Mergi masih terlihat agak utuh dari jauh, meski sudah ada bekas kerukan. Sekarang kalau lewat Tol, belahannya sudah menganga lebar.

Teman saya pernah bilang, tak lama lagi akan hilang. Saya jadi berpikir, apakah nanti anak-anak di Gedawang masih bisa melihat Gunung Ungaran dengan bukit-bukit kecil di kakinya seperti yang dulu saya lihat sambil mendengarkan teman menirukan suara elang?

Karena sama seperti migrasi Alap-alap di Gedawang yang sekarang sudah jarang disebut, bukit-bukit ini juga pelan-pelan hilang tanpa banyak yang mencatat.

 Padahal masalah galian C di sana sudah pernah dilaporkan tahun laluhttps://laporgub.jatengprov.go.id/detail/LGIG74907604.html

Data tambahan dari Lapor Gub Jateng
Saya menemukan aduan warga di LaporGub dengan nomor LGIG74907604 tentang Gunung Mergi. isi laporannya seperti ini:

“Halo min, mau tanya apakah penambangan batu di gunung atau bukit mergi lokasi lemahbang, kecamatan bergas, kabupaten semarang itu legal? Kondisi gunung/bukit makin lama makin memprihatinkan, sudah mulai terbelah, mohon edukasinya atau tindakannya gunung mau ditambang sampai seberapa? Sampai habiskah? Sampai ratakah? MOHON DIANALISIS DAMPAKNYA BAGI LINGKUNGAN DI MASA DEPAN”

Lokasi yang disebut pelapor itu Lemahbang, Bergas. Di skripsi UPN 2008 disebut Desa Beji, Ungaran Timur. Memang bukitnya di perbatasan itu – Beji di utara, Lemahbang di selatan, tol nya di tengah celahnya. Jadi dua-duanya benar.

Namun respon dari dinas terkait seperti ini

DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

menindaklanjuti aduan dapat kami sampaikan :

1. Kabupaten Semarang telah menetapkan Kawasan Gunung Mergi (Kecamatan Bergas dan Kecamatan Ungaran Timur) sebagai Kawasan Pertambangan sebagaimana tercantum dalam Pasal 31 Peraturan Daerah Kabupaten Semarang No. 6 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Semarang Tahun 2023 – 2043.

2. Terdapat 4 (empat) perusahaan yang telah memiliki legalitas baik itu izin usaha pertambangan maupun izin lingkungan untuk melakukan kegiatan pertambangan di Lingkungan Lemahbang Gunung Mergi yaitu PT. Sapta Mitra Nusantara, CV. Jati Kencana, CV. Berkah Mahlis Gatu dan CV. Selomas Jaya.

3. Keempat perusahaan diatas juga telah memiliki komitmen lingkungan berupa jaminan reklamasi dan jaminan pascatambang untuk mengembalikan kondisi lingkungan yang ada.

4. Adapun CV. Jati Kencana sebagai salah satu perusahaan yang melakukan kegiatan pertambangan di lokasi tersebut, telah berakhir izin usaha pertambangannya, dan saat ini sedang melakukan proses reklamasi tambang sebagaimana foto terlampir.

Berikut ini bukti skrinsut dari tanggapan atas aduan tersebut di situs lapor gubernur Jawa Tengah

Apa bisa bukit yang sudah terbelah itu direklamasi?

Secara aturan, bisa. Secara bentang alam, tidak akan jadi bukit lagi.

Reklamasi tambang batu / andesit itu aturannya di PP Minerba bukan mengembalikan jadi gunung utuh. Yang wajib dilakukan:

  • Penatagunaan lahan – tebing yang vertikal dipangkas jadi teras-teras (berundak) biar tidak longsor
  • Revegetasi – ditanami kembali, biasanya sengon, akasia
  • Pencegahan bencana pascatambang – bikin drainase
  • Pemanfaatan void – bekas lubang tambang kadang jadi kolam retensi

Jadi nanti hasil reklamasi Mergi bukan bukit kerucut lagi, tapi bukit yang punggungnya hilang, sisinya jadi tangga-tangga tanah yang ditanami. Itu yang di foto lampiran CV. Jati Kencana yang disebut Dinas.

Kenapa ditetapkan jadi Kawasan Pertambangan di Perda 2023 padahal tambangnya sudah lama ada? Itu pola umum di RTRW. RTRW baru itu memutihkan / melegalkan kondisi eksisting. Karena sebelum 2023 pun Mergi memang sudah ditambang puluhan tahun, jadi daripada dianggap liar, sekalian dimasukkan ke pola ruang pertambangan.

Ini yang bisa kamu jadiin angle kritis tapi tetap fair di tulisan WordPress mu, gaya ndawang banget:

“Saya baru paham kenapa Bukit Mergi terlihat terbelah. Bukan karena ilegal, ternyata legal. Perda RTRW 2023 menyebutnya Kawasan Pertambangan. Ada empat perusahaan yang punya izin, lengkap dengan jaminan reklamasi. Salah satunya, CV. Jati Kencana, sudah habis izinnya dan sedang direklamasi.

Tapi di sini saya bingung: bagaimana cara mereklamasi bukit yang sudah terbelah? Apakah teras-teras tanah yang ditanami sengon itu bisa disebut Gunung Mergi lagi? Atau kita harus menerima bahwa Gunung Mergi yang dulu saya lihat dari Gedawang sebagai bukit utuh di kejauhan, sekarang secara hukum memang sudah direncanakan untuk hilang, hanya diganti dengan reklamasi di atas kertas?”

Ternyata menurut berita Trending Jateng pada 6 Juni 2026 tersebut Ternyata keresahan itu ada alasannya. Pada 28 Juni 2024, IUP PT Sapta Mitra Nusantara seluas 8,4 hektar di Beji dan Karangjati diperbarui…”

“Padahal menurut analisis geologi, bukit ini adalah penyangga hujan dan resapan air…”

“Lebih ironis lagi, di dalam area itu ada lahan sengketa 7.150 m² milik ahli waris Singopawiro yang sudah inkrah di MA…” Jadi dugaannya dari penulis di berita itu adalah sudah jelas ada kongkalikong atau konspirasi dibalik pembaharuan izin tambang Galian C tersebut.

Saya membuat tulisan ini dengan bantuan Ai meta

Rowosari Tembalang Kekeringan Karena Tambang Galian C Brown Canyon?

Ada satu daerah di Kecamatan Tembalang Kota Semarang yang selalu mengalami kekeringan parah di setiap musim kemarau. Yang ironisnya nama daerah itu adalah Rowosari yang berarti rawa yang makmur. Yang menurut legenda Rowosari sendiri, di Rowosari dulunya terdapat sebuah rawa besar yang ditutup dengan gong dan berbagai sesaji agar debit airnya tidak membahayakan.

Menurut legenda tersebut Rowosari ditemukan oleh seorang lurah sekaligus penghulu asal Sendang Mulyo, daerah lain di Kecamatan Tembalang. yang bernama Mbah Citro. Mbah Citro adalah seorang lurah dan penghulu yang kaya raya. Beliau memiliki banyak ternak kerbau. Pada suatu sore kerbau-kerbaunya tersebut tidak kunjung kembali ke kandang. Sehingga Mbah Citro mencari kerbau-kerbaunya tersebut. Setelah ditelusuri ke arah selatan, ternyata kerbau-kerbaunya itu sedang asyik berendam di sebuah rawa. Mbah Citro berusaha untuk membawa kembali kerbau-kerbaunya tersebut, namun kerbau-kerbaunya itu tidak mau bergerak karena masih nyaman berendam. Hingga akhirnya Mbah Citro tetap menemani sapi-sapinya itu meskipun sudah maghrib. Setelah beberapa hari Mbah Citro tidak kunjung juga pulang. Akhirnya keluarganya pun menyusul ke rawa yang baru beliau temukan tersebut, dan alangkah terkejutnya mereka, Mbah Citro sudah meninggal dan sudah berubah menjadi tulang. Tidak ada penjelasan di cerita rakyatnya, bisa jadi beliau meninggal karena sebab alami dan jasadanya cepat terurai karena ada di rawa. Tetapi saya bisa berasumsi bahwa mungkin juga beliau terjatuh dan tenggelam di rawa. Karena menurut cerita rakyat yang terpisah, kemudian sebagian sumber air rawa itu ditutup agar tidak membahayakan. Mbah Citro dimakamkan tidak jauh dari tempat meninggalnya. Dan tempat itu menjadi kampung bagian timur laut Rowosari, tempat yang dekat dengan Sendang Mulyo, tempat asal Mbah Citro.

Penemuan rawa sekaligus wafatnya Mbah Citro yang menjadi awal berdirinya Rowosari ini bisa menjadi bukti bahwa daerah ini dulunya merupakan tempat yang sangat subur. Karena toponimi Rowosari dan cerita rakyat itu jelas bukan pepesan kosong. Cerita yang sudah berakar ratusan tahun itu tentu saja bukan sekedar karangan warga, tetapi memang kisah nyata yang sudah dituturkan secara terus-menerus.

Adapun tempat yang dulunya merupakan bekas sumber air rawa tersebut sekarang adalah sebuah persawahan yang tampak kering. Namun para warga di sana masih ingat bahwa sawah tersebut pernah sangat subur. Siapa yang menyangka bekas sumber rawa yang pernah ditutup karena terlalu besar itu pada akhirnya akan mengalami kekeringan bahkan sampai daerah tersebut rutin menerima bantuan air dari Pemkot Semarang. https://jateng.tribunnews.com/2024/08/22/semarang-mulai-alami-kekeringan-rowosari-masih-jadi-langganan pranala ini adalah berita mengenai kekeringan di Rowosari Tembalang. Lalu ini adalah berita dari tahun sebelumnya di 2023, tentang batuan air dari pemerintah saat musim kemarau ke Rowosari dan Jabungan. https://www.suaramerdeka.com/semarang-raya/049670016/kota-semarang-mulai-dilanda-kekeringan-bpbd-kirim-air-ke-sejumlah-wilayah-salah-satunya-di-jabungan.

Saya jadi penasaran sejak kapankah daerah yang tadinya merupakan rawa dan persawahan yang subur ini mengalami kekeringan dan saya mencoba melakukan penelusuran dengan internet. https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3649878/daerah-di-semarang-ini-selalu-krisis-air-bersih-tiap-kemarau Menurut berita bertahun 2017 ini kekeringan di sana sudah terjadi sejak puluhan tahun, tetepi tidak jelas kapan. Jika tahun 2017 sudah ada berita kekeringan, berarti di tahun itu juga sudah ada kekeringan. Saya juga berhasil menemukan berita lain mengenai kekeringan di Rowosari tahun 2017 https://jateng.antaranews.com/berita/174522/2-wilayah-semarang-mulai-kesulitan-air-bersih

Namun saya juga menemukan sebuah skripsi tahun 2018 dari UPN Veteran Jogjakarta soal kekeringan di Rowosari ini yang mengambil berita dari Semarang Metro tahun 2015. Namun saya tidak bisa menemukan berita tersebut, dan link skripsinya tidak bisa dibuka. Hingga akhirnya saya menemukan berita tahun 2014 https://daerah.sindonews.com/berita/901729/22/kemarau-panjang-tiga-daerah-ini-alami-kekeringan, yang ternyata berita ini bertanggal hanya sehari sebelum hari ulang tahun saya tahun itu. Dan berita paling awal yang saya temukan adalah di tahun 2011, yang mana berita ini juga menyebut kekeringan di Sumberejo Meteseh, kelurahan lain di Tembalang. Yang ironisnya Sumberejo, sebagaimana Rowosari menunjukkan bahwa tempat itu tadinya memiliki sumber atau mata air yang bagus. https://travel.kompas.com/read/2011/09/14/00240048/pinggiran-semarang-mulai-kekeringan, dan anehnya kenapa ini juga berita 14 september, dua hari sebelum hari lahir saya. Ya ulang tahun saya waktu musim kemarau si. Sebagai sekedar tambahan ini adalah Dokumen Resiko Bencana Kota Semarang dari BPBD https://bpbd.semarangkota.go.id/storage/file/UErWSIuK20250203005912.pdf

Kalau yang di bawah ini beberapa tulisan saya mengenai Rowosari dan Brown Canyon. Keduanya berkaitan dengan tulisan ini.

Jika berita paling awal pada 2011, berarti itu di waktu yang bersamaan ketika Bukit Watu Lumbung atau sekarang dikenal sebagai Brown Canyon ditambang dengan sangat masif. Waktu yang sebenarnya saya sendiri tidak tahu karena saya tidak pernah memperhatikan bukti tersebut pada waktu itu. Saya terakhir tahu bukit itu pada tahun 2007 ketika saya masih kecil, dan tiba-tiba saja ada sebuah nama viral bernama “Brown Canyon” pada tahun 2014-2015 yang belakangan saya ketahui sebagai bukit tersebut. Pranala di atas adalah tulisan lain saya mengenai “devolusi” Bukit Watu Lumbung menjadi “Brown Canyon” yang saya buat dengan data peta satelit.

Pencarian saya mengenai aktivitas galian C di Rowosari menunjukkan bahwa kegiatan tersebut sudah dilakukan secara manual sejak tahun 1970an, tetapi mulai dibantu dengan alat berat sejak tahun 1990an akhira atau 2000an awal. Saya sendiri sempat melihat Bukit Watu Lumbung yang hijau dengan garis-garis hitam seperti sawah dari Gedawang pada tahun 2007 dan tampak di pingirnya ada eskavator serta pinggirnya sudah tidak utuh. Gedawang memang cukup jauh dari Bukit Watu Lumbung atau Brown Canyon sekarang, tetapi Gedawang lebih tinggi. Hal itu saya ceritakan di tulisan kedua saya di atas. Saya tidak pernah memfoto kejadian itu sehingga saya menggunakan foto-foto satelit Google Earth untuk tulisan saya di atas.Dan benar tahun 2009-2011 adalah awal kerusakan parah Bukit Watu Lumbung atau yang sekarang menjadi “kawah Brown Canyon”

Saya pikir keadaan ekonomi di Rowosari dan sekitarnya telah membuat para warga di sana menjual lapisan tanah keras di bukit-bukit termasuk Watu Lumbung atau Brown Canyon sekarang untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang tidak bisa didapatkan dari aktivitas pertanian. Tanpa menyadari bahwa penambangan itu mematikan jalur air menuju ekuifer atas yang sebelumnya menampung air-air yang muncul dari sumber-sumber mata air yang mereka gunakan untuk hidup dan bertani. Dan masalahnya adalah semakin lama mereka menambang air akan semakin sulit karena jalurnya terputus, dan mereka harus semakin banyak menambang yang artinnya keadaan akan semakin kering. Dan yang parah adalah hal ini tidak hanya terjadi di Kecamatan Tembalang Kota Semarang, namun di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai seorang Muslim saya cukup khawatir karena pola pertambangan Galian C ini ada kemiripan dengan perilaku Umat Nabi Sholeh Alaihi Salam, yaitu Kaum Tsamud. Di dalam Al Qur’an Kaum Tsamud yang berbadan kuat melakukan beberapa kesalahan yang salah satunya adalah memotong-motong batu besar dan gunung untuk dijadikan rumah. Perbuatan mereka itu diabadikan di dalam Surat Al Fajar Ayat 9, yang bunyinya “Dan kaum Tsamud yang memotong-motong batu besar di lembah”, Surat Al Hijr Ayat 82 “Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman”, serta Surat Al A’raf Ayat 74 “Dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah…”. Cuma bedanya kalau sekarang bukitnya dipahat bukan untuk dijadikan rumah di atas bukitnya, tetapi meterialnya diambil untuk dijadikan gedung-gedung.

Kadipaten Pasuruan, Kadipaten Strategis di Jawa Timur yang Terlupakan

Kalau mendengar nama Pasuruan mungkin sekarang sebagian besar orang hanya mengenalnya sebagai salah satu Kabupaten kecil di Jawa Timur yang juga tergolong sebagai “kota santri”. Namun itupun hanya bagi orang-orang setempat yang tahu, atau bagi kalangan santri tradisionalis. Bagi orang-orang kebanyakan di Indonesia, seperti di sekitar Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan bahkan Jawa Tengah yang non-santri. Dan apalagi di luar Jawa selain Madura dan Bali, nama kota ini nyaris tidak dikenal. Ya mungkin ada sedikit yang tahu kalau salah satu Jatim Park ada di Pasuruan, bukan di Malang. Tetapi itu agak langka karena kebanyakan orang lebih mengenal Jatim Park sebagai landmark-nya Malang meskipun di Pasuruan juga ada. Padahal tempat ini juga memiliki Gunung Arjuna yang cukup sering didaki selain Bromo dan Semeru. Namun sekali lagi tempat ini kalah pamor dari Malang karena rute pandakian lebih banyak yang dari Malang.

Jika dilihat dari segi sejarah, Pasuruan juga kalah dengan Malang karena di Malang dikenal sebagai tempatnya Ken Arok. Padahal sebenarnya Sejarah Pasuruan itu banyak, hanya saja kurang digali. Sejarah Pasuruan yang saya maksud adalah sejarah di Era Demak akhir, Mataram awal, dan zaman Untung Suropati.

Sejarah-sejarah terkait Pasuruan tersebut sebenarnya cukup terkenal, namun sayangnya hanya menempatkan Pasuruan sebagai latar dan catatan yang kurang penting. Sebab, Pasuruan biasanya hanya digambarkan secara sekilas dari sudut pandang pihak lain. Sejarah Demak akhir menempatkan Pasuruan sebagai tempat yang diserbu oleh Sultan Trenggono karena sisa-sisa Majapahit bekerjasama dengan Portugis. Hingga akhirnya Pasuruan berhasil ditaklukkan dengan harga nyawa Sultan Trenggono sendiri. Dan bahkan gugurnya Sultan Trenggono di Pasuruan itu memicu Perang Saudara dan keruntuhan Kesultanan Demak. Coba kurang penting apa kota ini sampai seorang Sultan Demak yang bernama Trenggono mengorbankan nyawanya. Ini seharusnya membuat Pasuruan dipandang setara dengan Kota Malaka di Malaysia. Karena Demak juga kehilangan sultan keduanya, yaitu Pati Unus di sana. Juga dalam perang yang terkait dengan pengusiran Portugis. Kota Pasuruan seharusnya dikenal karena sudah menjadi kota kedua yang menyebabkan gugurnya salah satu Sultan Demak.

Kemudian pada masa Mataram Islam, Pasuruan hanya muncul sekilas di cerita Perang Mataram melawan Koalisi Jawa Timur. Yaitu ketika Panembahan Senopati berduel satu lawan satu melawan Panglima Kadipaten Pasuruan yang bernama Keninten. Keninten yang kebal (entah karena ilmu magis atau baju besi) berhasil dikalahkan dengan cara ditombak lututnya, dan menjadi lumpuh setelah jatuh dari kudanya. Ya mungkin syarafnya kena waktu jatuh, sehingga akhirnya Keninten dihukum mati oleh Adipati Pasuruan dan Pasuruan menyerah kepada Mataram.

Pada dua potongan sejarah tersebut, Pasuruan menjadi tempat penting tetapi tidak punya riwayatnya sendiri. Cerita Pasuruan di dalam kedua potongan sejarah tersebut muncul dari sudut padang Kesultanan Demak dan Mataram Islam. Cerita versi Pasuruan bisa dibilang tidak ada, atau belum ditemukan. Makanya tidak ada penjelasan versi Pasuruan yang bisa membuat Pasuruan tampak lebih berperan aktif. Padahal Perang Demak versus sisa Majapahit dan Portugis di Pasuruan itu pertempuran kolosal. Tapi perang ini kalah disorot ketimbang Perang Demak versus Pajajaran dan Portugis di Sunda Kelapa atau sekarang Jakarta. Padahal Sultan Demak sampai gugur di sini.https://warungkopipasuruan.blogspot.com/2011/03/kadipaten-pasuruan-di-bawah-mataram.html Ini contoh dari sedikit sekali konten internet tentang sejarah Pasuruan.

Ya tidak semua, cerita sejarah kita melupakan Pasuruan, Pasuruan punya cerita aktifnya pada masa Untung Suropati, tokoh legendaris yang dulunya adalah budak asal Bali. Dibeli oleh Belanda dan diberi nama Untung karena dianggap membawa keberuntungan, lalu melawan Belanda setelah cintanya tidak direstui dan berperang melawan Belanda di Bangil, Pasuruan. Perang tersebut terjadi selama berminggu-minggu dan berakhir dengan kekalahan heroik Untung Suparati. Namun sekarang, ya generasi sekarang banyak yang lupa dengan pertempuran ini karena buku sejarah kurang mempromosikan Untung Surapati atau kurang mempromosikan pertempuran terakhirnya di Bangil, Pasuruan. Kebanyakan buku, dan sekarang content creator, lebih berfokus pada kisah asmara terlarangnya dengan Suzane, noni Belanda anak bekas majikannya, yang menjadi katalis atau pemicu perlawanannya terhadap Belanda. Padahal kisah keseluruhan Untung Surapati adalah kisah petualangan yang sangat epik untuk dibaca atau dijadikan film. Mungkin juga karena terlalu panjang itulah orang-orang jadi lupa versi lengkapnya. Di Jakarta mungkin orang lebih tahu kisahnya dengan Suzane. Dan di generasi tua di Jawa Tengah juga lebih terkesan dengan kiprahnya membunuh Kapten Tack di Kartasura, dan mitos Kapten Tack dikubur berdiri di dekat Benteng VOC Jepara. Seolah-olah pertempuran terakhir atau “The Last Stand” dari Untung Surapati di Pasuruan ini malah jadi episode yang terlupakan.

Saya jadi bertanya-tanya, mengapa tidak ada Orang Jawa Timur, atau Pasuruan sendiri yang mengangkat episode terakhir dari kehidupan, petualangan, dan perjuangan sosok legenda ini, bersama dengan kisah kejayaan Pasuruan itu sendiri. Saya segera menyadari bahwa pertanyaan saya itu memiliki jawaban di dalam kisah Untung Surapati. Yaitu pada pertempuran heroik dan brutal serta tragis antara Untung Surapati melawan VOC dan para sekutunya di Bangil. Untung Surapati yang sadar bahwa mungkin jenazahnya akan dibakar meminta kepada ahli warisnya agar dimakamkan di makam rata tanpa nisan. https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/09/14/babad-tanah-jawi-108-adipati-wiranagara-untung-surapati-meninggal-dunia/

Pertempuran yang terjadi hingga berbulan-bulan itu hampir bisa dipastikan telah menghapus peninggalan-peninggalan bersejarah Kadipaten Pasuruan sejak era Islam. Sebab tidak mungkin tembok-tembok dan bangunan-bangunan Kadipaten Pasuruan bisa bertahan setelah dibombardir habis-habisan selama berbulan-bulan. Dan bukan tidak mungkin Belanda telah memusnahkan sisa tembok benteng dan bangunan Kadipaten Pasuruan karena dendam pada Untung Surapati. Meningat jenazah Untung Surapati yang sudah dikebumikan selama setahun dan masih utuh dibakar oleh pasukan VOC di bawah Herman De Wilde. Mereka membakar jenazah yang sudah dikebumikan selama setahun itu karena sangat dendam. Dan mereka tidak membongkard serta membakar jenazah itu secara kebetulan. Mereka memang merupakan sebuah ekspedisi VOC yang diperintahkan untuk membongkar dan membakar makam dan jenazah Untung Surapati. Tampaknya selain dendam, mereka juga tidak ingin ada peninggalan sosok pahlawan yang bisa menjadi inspirasi perlawanan terhadap VOC Belanda, sampai-sampai jenazahnya saja harus dimusnahkan.

Dari kisah pembakaran jenazah Untung Surapati tersebut kita bisa memperkirakan apa yang sangat mungkin dilakukan oleh VOC terhadap sisa-sisa Benteng Untung Surapati di Pasuruan. Kita bisa membandingkan penghancuran Benteng Untung Surapati di Pasuraun ini dengan penghancuran benteng Istana Pangeran Trunojoyo atau Panembahan Maduretno di Kediri. Benteng sepanjang 8,5 Kilometer itu sekarang tidak ada sisanya sama sekali. Kemungkinan dibongkar oleh Belanda setelah perang berakhir agar tidak digunakan lagi. Begitu juga dengan benteng-benteng Kesultanan Makassar di Sulawesi Selatan yang diledakkan oleh Belanda dengan peledak agar tidak digunakan lagi.

Ada kontroversi apakah benteng Kediri ini murni buatan Trunojoyo atau dia hanya memanfaatkan dan memodifikasi benteng kuno Majapahit. Namun catatan Belanda mengatakan benteng itu punya panjang 8,5 Kilometer, jauh lebih besar daripada Benteng Keraton Mataram Pledred yang dibangun dengan mengerahkan 300.000 tenaga kerja. https://www.pasak.or.id/2025/07/hancurnya-istana-pangeran-trunojoyo-di.html https://www.facebook.com/groups/519716551006926/posts/778343268477585/ Dan benteng ini juga terbuat dari batu bata Majapahit. Saya cenderung percaya Trunojoyo tidak benar-benar membangun bentengnya di Kediri itu dari nol, tetapi memanfaatkan sisa benteng zaman Majapahit yang masih tersisa. Sebab Trunojoyo jelas tidak akan punya waktu dan tenaga kerja untuk membangun benteng seperti itu di waktu yang sangat singat dan keadaan yang sangat genting.

Begitu juga dengan Benteng Untung Surapati di Pasuruan, jika benteng itu baru bisa ditaklukkan setelah pengepungan dan bombardemen selama beberapa bulan, maka bisa disimpulkan bahwa sama seperti Benteng Trunojoyo di Kediri benteng itu punya ukuran yang cukup besar. Dan bisa jadi Benteng Untung Surapati ini juga sudah ada sejak sebelum Untung Surapati menjadi Adipati Pasuruan dan/atau diperkuat oleh Untung Surapati sendiri selama 20 tahun masa kekuasaannya di Pasuruan. Namun yang jelas ada indikasi kuat bahwa Kadipaten Pasuruan juga pernah punya tembok pertahanan berkuran besar.

Indikasi tersebut juga bisa kita runut kembali pada sejarah strategis Pasuruan setelah ditaklukkan oleh Demak yang mungkin ini belum pernah atau jarang terpikirkan oleh orang banyak. Dengan pengorbanan yang begitu besar, termasuk dengan gugurnya Sultan Trenggono. Demak tentu tidak akan membiarkan Pasuruan kembali direbut oleh Blambangan dan Bali sebagai sisa-sisa Kerajaan Majapahit yang masih beragama Hindu. Dan jika berkaca kembali pada Benteng Trunojoyo di Kediri, sangat mungkin jika Benteng Pasuruan era Hindu juga masih berdiri kokoh. Sebab Demak butuh Kadipaten Pasuruan yang kuat sebagai benteng terdepan melawan sisa-sisa Hindu Majapahit di Blambangan dan Bali.

Satu hal yang terlupakan pada sejarah Pasuran adalah Pasuruan yang dilawan oleh Panembahan Senopati tidak hanya berpusat di Pasuruan saja, tetapi wilayahnya juga menguasai Malang Raya saat ini. Hal ini juga baru saya temukan di video sejarah Perang Mataram-Bang Wetan (Jawa Timur) di channel Bapak Lazuardi Wong Jogja.Hal ini terlihat pada menit 1:40-1:50 https://youtu.be/HkKT_3CxI0o?si=nJyyZbfyQQ8jXURl

Data lain yang merupakan indikasi bahwa Pasuruan adalah daerah yang memiliki nilai strategis adalah adanya salah satu dari empat permaisuri Susuhunan Amangkurat I yang berasal dari Pasuran dengan gelar Ratu Ayu Pasuruan. Hal ini saya dapatkan dari Wikipedia Bahasa Indonesia sejak setahun lalu dan sampai tanggal 3 Juli 2026 ini belum berubah mengenai para pemaisurinya. https://id.wikipedia.org/wiki/Amangkurat_I

Jadi Amangkurat I tidak hanya punya satu permaisuri tetapi empat permaisuri dengan ditambah Ratu Malang, jadi totalnya lima. Jika biasanya raja hanya punya satu permaisuri dan banyak selir Amangkurat I tidak, keempat istri sahnya adalah permaisuri sedangkan yang lainnya selir, Ya saya tidak paham bagaimana penerapan syariat Islam di masa itu kok istrinya lebih dari empat. Tapi empat yang maksimal itu permaisuri semua. Beliau-beliau itu adalah:

1.Ratu Kilen/Ratu Mas Surabaya putri dari Adipati Surabaya, Pangeran Pekik;

2.Ratu Ayu Wetan, Putri Panembahan Kajoran/ Panembahana Rama/ Pangeran Kajoran/ Raden Kajoran, pemimpin ulama di Tembayat, Klaten, masih keturunan Jaka Tingkir/Sultan Hadiwijaya dari Pajang dan Sunan Tembayat;

3. Ratu Kencana dari Kranon, Bantul, tidak dijelaskan secara rinci soal latar belakang beliau tetapi nama Kranon yang merupakan daerah di Bantul kerap dikaitkan dengan Tumenggung Singaranu yang sempat menjadi Patih Mataram dalam waktu singkat;

4. Ratu Ayu Amangkurat Pasuruan, dari Pasuruan, tidak dijelaskan secara gamblang tetapi bisa diduga kuat putri Adipati Pasuruan.

Ditambah Ratu Malang yang konon katanya menggantikan Ratu Mas Surabaya yang sudah wafat. Keempat permaisuri tersebut merupakan putri-putri dari keluarga berpengaruh yang pernikahannya dengan Susuhunan Amangkurat I juga memiliki bobot politik. Sebab secara nalar, mana mungkin putri orang biasa bisa menjadi permaisuri. Pangeran Pekik, Adipati Surabaya adalah wakil dari Trah atau dinasti terkuat di Jawa Timur yang baru saja ditaklkukkan oleh Mataram di masa Sultan Agung. Melalui pernikahan Mataram sudah “memegang” Dinasti Surabaya. Sedangkan Raden Kajoran adalah seorang ulama yang berpengaruh, pernikahan antara Amangkurat I dan Ratu Ayu Wetan jelas bertujuan untuk mengendalikan para ulama. Ratu Kencana dari Kranon pasti juga putri keluarga berpengaruh di Mataram sendiri disamping keluarga kerajaan. Dari ketiga pola di atas dapat dipastikan masuknya Putri Pasuran menjadi salah satu permaisuri Amangkurat I juga memiliki bobot politisnya tersendiri. Yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa Pasuruan memiliki bobot yang sama dengan Kadipaten Surabaya yang pernah menguasai seluruh Jawa Timur. Padahal Pasuruan sudah tunduk kepada atau merupakan bawahan Surabaya selama Perang Mataram Bang-Wetan.

Hal ini bisa memunculkan analisa bahwa ada bobot politik tersendiri yang dimiliki oleh Pasuruan sehingga bisa sejajar dengan Surabaya dalam pernikahan putri dinasti mereka sebagai permaisuri Amangkurat I. Dan menurut analisa pribadi saya adalah karena Pasuruan merupakan Kadipaten Islam paling timur. Pasuruan di era Amangkurat I masih meneruskan peranannya dari era Demak sebagai penjaga timur daerah Islam di Jawa. Peranan ini bisa kita liat pada Perang Mataram Blambangan I dan II ketika Mataram Islam bertempur melawan Blambangan dan Bali. Seluruh kekuatan Mataram pada dua perang tersebut selalu difokuskan di Pasuruan sebelum dikerahkan untuk menyerang pertahanan Blambangan di Banger, sekarang Probolinggo.

Pasuruan bukan merupakan suatu daerah kecil di pinggiran kesultanan Islam di Jawa, tetapi daerah pinggiran yang strategis sebagai benteng terdepan.

Gunung Tugel: Bukit Tanpa Nama, Kampung Slengut yang Hilang, dan Ladang yang Naik ke PuncakPeta 1908 vs Lapangan 2026 – Catatan dari Sabuk Merah Kendeng

Kalau Watu Lumbung itu nama yang dibunuh, Gowa Gogor itu proyek yang mangkrak, maka Gunung Tugel ini identitas yang ketuker.

100 tahun kita nyebut “Gunung Tugel” buat bukit di Jabungan. Ternyata salah. Peta Belanda 1908 koleksi University of Texas Austin nggak bohong: yang namanya “Goenoengtoegel” itu kampungnya. Bukitnya? Anonim. Nggak dikasih nama.

Gunung Tugel dan Gedawang
Caption: Peta 1908. “Goenoengtoegel” tertulis di pemukiman selatan bukit. “Slengoet” ada di utara. Bukitnya sendiri cuma garis kontur. Kita 100 tahun salah alamat.

Bab I: Slengut, Kampung yang Dihapus Peta

Di utara bukit, peta 1908 nulis satu nama: Slengoet. Kampung kecil pinggir Kali Kelekan.

Mei 2026 saya nyari. Patokannya gampang: utara bukit, selatan sungai, sekarang sebelah utara Perumahan Bintang Regency.

Slengut ini korban pertama Sabuk Merah Kendeng. Sebelum ada ekskavator, sebelum ada perumahan, dia udah kalah duluan. Namanya tinggal di peta, badannya jadi tanah angon.

Peta Belanda 1908 nyatet: Slengoet ada di utara bukit.
Peta Google 2026 nyatet: Nihil.
Lapangan 2026 nyatet: Tanah keras, kandang baru, spion motor.

Update 19 Mei 2026 – Slengut Masih Hidup

Saya balik ke utara Gunung Tugel hari ini. Belum sempat foto pelataran Slengut-nya, baru foto jalan masuknya.: Dari Bintang Regency turun dulu ke lembah Kali Kelekan. Di bawah ada kandang baru. Motor tukang angon parkir, spionnya mantulin matahari. Lembah ini hidup.

Awal masuk eks Slengut di kebun
Caption: Turun ke kuburan. Dari Bintang Regency jalannya turun dulu ke lembah Kelekan. Di bawah ada kandang seng & bambu. Ini “kehidupan kedua” Slengut: dari kampung jadi kandang. Motor tukang angon parkir. Spionnya mantulin matahari. Satu-satunya benda 2026 di tanah yang namanya udah dicoret dari peta.filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; hdrForward: 0; brp_mask:0;brp_del_th:null;brp_del_sen:null;delta:null;module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 36;
Jalan masuk eks Slengut
Gerbang masuk eks Slengut. Di bawah ada motor (kelihatan spionnya) & kandang baru. Bukti Slengut nggak ditinggal total. Untuk masuk ke lokasi bekas Slengutnya sendiri harus naik ke tanah yang lebih tinggi di sebelah kanan . filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; hdrForward: 0; brp_mask:0;brp_del_th:null;brp_del_sen:null;delta:null;module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 36;
Tanjakan masuk bekas Slengut
Ini tanjakan ke tanah yang lebih tinggi di sebelah kanan. Setelah manjat ke sini baru bener-bener masuk ke bekas Slengut. Mau ke eks Slengut harus naik. Pelataran di atas tebing ini. Tanahnya keras, ketutup semak. Dulu kampung, sekarang padang angon. Naik 3 meter, mundur 100 tahun. Sepertinya kondisi di atas sudah berubah karena dipapras untuk cut and fill Perumahan Grand Kota Kita di sebelahnya. Di atas saya nggak nemu pemandangan yang saya lihat tuju tahun lalu. filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; hdrForward: 0; brp_mask:0;brp_del_th:null;brp_del_sen:null;delta:null;module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 256;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 37;
Pelataran Bekas Slengut
Ini foto pelataran Slengut yang lebih tinggi kalau dari jalan yang turun tadi. Terlihat juga jembatan tol Gedawang. filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; hdrForward: 0; brp_mask:0;brp_del_th:null;brp_del_sen:null;delta:null;module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 43;
Jalan bawah Slengut
Yang ini jalan bawah Slengut, lebih rungkut, dan terlihat di ujung jalan tanahnya sedikit menanjak. Di kiri terlihat jelas jalan tol layangnya. Jalan tol itu dibuat di atas lembah sungai Kelekan tapi tidak persis di atas sungai melainkan di salah satu sisi lembah. filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; hdrForward: 0; brp_mask:0;brp_del_th:null;brp_del_sen:null;delta:null;module: portrait;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: off;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 43;

Setelah dari tempat tersebut, saya disapa oleh warga yang rumahnya paling ujung di perumahan tersebut. Tadinya saya ditanyai saya dari mana, saya menjawab bahwa saya habis jalan-jalan. Lalu saya mampir ke halaman rumahnya dan membicarakan soal Kampung Slengut tersebut. Orang yang saya temui ternyata bernama Pak Santoso, seorang pria berusia 73 tahun. Meskipun bukan warga asli, tetapi beliau mengetahui cukup banyak mengenai kampung Slengut dari penuturan warga asli. Beliau menuturkan kepada saya bahwa tanah di bekas kampung tersebut pernah dipegang oleh Zeni TNI AD setelah ditinggalkan. Kemudian dijual kepada swasta dan sempat dikapling-kapling. Hal ini cocok dengan citra satelit Google Eearth pada sekitar tahun 2007 ketika daerah itu tampak mengalami pembukaan lahan. Ternyata pemilik tanah tersebut tidak kuat membangun kapling-kapling tersebut karena letak lahannya yang tidak strategis sehingga menyulitkan untuk dibangun. Letaknya ada di sebuah pelataran yang tinggi. Tetapi sekarang sudah terpotong oleh bego. Saya sendiri tidak ingat apakah dulu saya naik ke sana waktu masih utuh atau sudah terpotong. Saya juga tidak dapat memastikan apakah pemandangan di atas pelataran itu sama dengan yang saya lihat dulu, saya perlu memeriksanya lagi. Pak Santoso menyebut tanah tersebut dikuasai oleh Zeni TNI AD sebagai rampasan perang, saya merasa janggal karena biasanya yang rampasan perang itu kalau milik Belanda. Sementara kampung itu Kampung Jawa, tapi itulah yang diketahui oleh Pak Santoso. Malamnya saya bertemu lagi dengan tukang roti asal Kalialang Mluweh yang mengetahui daerah tersebut, katanya daerah itu masih ada ketika dirinya masih kecil tahun 1970an, hanya saja beliau tidak pernah ke sana. Kata beliau kampung itu ditingglakan karena lokasinya yang sulit dijangkau. Saya menduga mungkin lokasi tersebut sengaja dipilih karena aman. Tetapi wallahualam. Ada beberapa perbedaan versi antara Pak Santoso dan tukang roti, terutama soal status tanah itu yang sempat dikuasai TNI AD. Tapi entah kapan dikuasainya, tanah yang kosong biasanya memang menjadi tanah negara dan diserahakn kepada institusi.

Temuan:

  1. Topografi: Slengut itu pelataran di punggungan. Pantes di peta 1908 digambar di atas sungai. Strategis buat ngindar banjir Kelekan.
  2. Fungsi sekarang: Tempat angon + kandang sapi/kambing baru. Tanahnya keras & retak, ciri bekas kampung yang memadat.
  3. Status: Dari “kampung hilang” di peta, jadi “tanah angon semi-permanen” di lapangan 2026. Nggak ada rumah, tapi ada kehidupan.

Slengut emang di punggungan. Naik dari lembah, datar di atas. Strategi klasik hindari banjir.1908 kampung → 2026 kandang + jalan pintas. Nggak ada rumah, tapi ada kehidupan.Sebelah kiri Bintang Regency, sebelah kanan pelataran Slengut. Perumahan berhenti, kampung hilang mulai. Jadi Slengut belum 100% mati. Cuma ganti rupa: dari kampung jadi padang angon. Sama kayak Gowa Gogor: dari bukit gundul jadi hutan sekunder. Tanah Kendeng itu bandel.Jadi Slengut nggak hilang total. Dia turun pangkat. Dari kampung di peta Belanda, jadi tanah keras buat angon kambing. Sama kayak Watu Lumbung: dari nama bukit, turun jadi nama tebing galian. Kesimpulannya adalah:

Slengut itu nyata dan masih bisa dilacak. Bukan mitos.

Pola “Sabuk Merah” kebukti lagi: Kampung hilang → tanah keras → dipake angon → nunggu digusur/dijual. Sama kayak Gowa Gogor nunggu ekskavator.

Foto “spion motor mantul” itu puitis. Benda modern satu-satunya di tanah yang namanya udah dihapus peta. Kontrasnya dapet banget buat cover post.

Bab II: Lereng Timur – Tugel yang Dipatah 2022

[FOTO 2: Tanah kosong datar utara Bintang Regency, Mei 2026]
Caption: Eks Slengut? Tanah keras, retak, ngeplak. Nggak ada pondasi, nggak ada sumur. Cuma rumput & kambing. Kata warga Gedawang: “Wis suwe mas, embuh kapan ilange. Jarene mbiyen kampung.”

Kalau Slengut udah rata, sekarang giliran bukitnya yang dipatah.

Lereng timur Gunung Tugel dulu hutan jati. 2022 ketika mulai dijadikan perumahan dari post Lanskap Jabungan. 2026?

[FOTO 3: Lereng timur Tugel, proses cut & fill Mei 2022] Caption: Ini BUKAN galian C. Ini cut & fill Perumahan Bersubsidi “Kota Kita”. PBG: [isi kalau ada]. Bedanya sama Brown Canyon: tanahnya nggak dijual keluar, tapi dipindah buat ratain kavling. Persamaannya: hutan jatinya hilang, tanah kebuka, risiko longsor naik.

Disclaimer penting: Saya nggak anti-perumahan. Tapi peta KLHK 2022 ngasih nilai “Sangat Kritis” buat area Jabungan. Artinya lereng ini harusnya ditutup ijo, bukan dibuka kavling. Sekali gundul, Kelekan yang udah kecil makin nggak ada resapan. Sawah di bawah makin mati.

Bab III: Puncak Bukit – Ladang Naik karena Sawah Mati

Ini lingkaran yang paling pahit.

Ladang di Gunung Tugel
Caption: Mei 2026. Puncak Tugel mulai digunduli. Bukan buat perumahan. Buat ladang singkong & jagung. Kenapa petani naik?filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; hdrForward: 0; brp_mask:0;brp_del_th:null;brp_del_sen:null;delta:null;module: panorama;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: off;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 38;

Jawabannya ada di peta 1908 lagi. Lihat Kali Kelekan. Garis biru tebal, berkelok, ngairin sawah Jabungan-Gedawang.

2026? Sungainya ciut. Kemarau kemarin sawah puso. Petani Jabungan ngomong: “Lha ajeng nandur padi pripun mas, toyanipun mboten enten.”

Jadi mereka naik. Buka hutan di puncak Tugel. Sawah mati → hutan babad → bukit gundul → erosi → Kelekan makin dangkal → sawah makin mati.

Werkudoro nendang Tugel sekali, jadi patah. Kita nendang Tugel tiap musim tanam.

Bab IV: Satu Punggungan, Empat Kuburan

Tarik garis lurus dari Jabungan ke Rowosari. Itu Sabuk Merah Kendeng Tembalang. Isinya kuburan:

Nama 1908Nama 2026KondisiStatus
SlengoetTanah kosongKampung hilangMati Penduduknya
GoenoengtoegelGunung TugelLereng jadi perum, puncak jadi ladangMati Lerengnya
GoewagogorGowa GogorMangkrak 30th, ada ekskavator lagiMati Proyeknya
WatoeloemboengBrown CanyonJadi tebing 50mMati Bukitnya

Peta Lahan Kritis KLHK 2022 ngasih warna sama ke mereka berempat: merah tua. Sangat Kritis. Artinya punggungan ini udah sekarat dari 90-an. Bedanya: ada yang udah dikubur, ada yang masih sekarat. Lihat juga postingan di tempat saya untuk beberapa tempat itu: https://ndawang.wordpress.com/2024/03/31/gunung-guwagogor-nama-asli-bukit-piramid-rowosari-tembalang-dan-beberapa-bukit-di-dekatnya/. https://ndawang.wordpress.com/2018/07/12/bukit-panjang-dekat-mluweh-ungaran/

https://ndawang.wordpress.com/2026/05/13/watu-lumbung-nama-yang-dibunuh-bukit-yang-dikuliticatatan-lengkap-brown-canyon-rowosari-1999-2026/

Penutup: Tolong Jangan Nambah Kuburan

Legenda bilang Gunung Tugel patah ditendang Werkudoro. Patahannya mental jadi Watu Ulo.

Sejarah bilang Slengut patah dihantam zaman. Patahannya jadi tanah angon.

2026 bilang lereng Tugel patah dibelah ekskavator. Patahannya jadi Perumahan Kota Kita.

Kalau Werkudoro bangun 2026, dia mungkin protes: “Aku kae nendang pisan wae wis dadi legenda. Lha kowe kok nendang saben dina?”

Peta 1908 nyimpen nama Slengut. Peta 2026 mungkin nyimpen nama Gunung Tugel.

Tugas kita: jangan sampai peta 2126 nanti cuma nyimpen garis kontur. Tanpa nama. Tanpa bukit. Tanpa cerita.

Kalau main ke Tugel, mampir ke tanah kosong utara Bintang Regency. Dengerin. Siapa tau masih ada suara Slengut. Sebelum ketutup suara molen.

Watu Lumbung: Nama yang Dibunuh, Bukit yang DikulitiCatatan Lengkap Brown Canyon Rowosari 1999-2026

PEMBUKAAN

Mei 2026. Saya berdiri di kaki punggungan Rowosari. Di kiri ada Gowa Gogor yang udah mulai ijo. Di kanan ada tebing Brown Canyon yang menganga.

Dua bukit, satu punggungan, satu nasib: namanya dibunuh, badannya dikuliti. Bedanya, Gowa Gogor gagal jadi perumahan. Watu Lumbung berhasil jadi tambang.

Ini catatan lengkap pembunuhan sebuah nama & penghancuran sebuah bukit, 1999-2026.

BAB I: NAMA ASLI YANG DIKUBUR – WATU LUMBUNG

“Nama Watu Lumbung resmi ada di peta sampai tahun 1990-an. Lalu peta berhenti nyebut. Bukitnya nggak hilang, tapi mulai dikuliti dari dalam.

Brown Canyon adalah sebuah bekas tambang galian C di Rowosari, Tembalang, Kota Semarang. Tempat ini awalnya adalah sebuah bukit besar namun hancur karena aktivitas pertambangan. Tempat itu disebut sebagai Brown Canyon karena dianggap mirip dengan Grand Canyon di Amerika Serikat. https://www.kompas.id/baca/gaya-hidup/2018/08/05/menantang-glc-di-brown-canyon/ https://ndawang.wordpress.com/2023/10/08/evolusi-brown-canyon-rawasari-tembalang-semarang/

Brown Canyon 2017
Gambar yang menunjukkan Brown Canyon dari kejauhan, dari Bukit Panjilaras, Kelurahan Jabungan, dekat Bukit Siroto juga pada tahun 2017 oleh seorang pengguna Google Maps dengan username Umine Fadel

Tebing yang terdapat di sana sekarang adalah bagian batuan bukit yang tidak mampu dihancurkan oleh para penambang. Saya pernah melihat bentuk lebih utuh bukit ini dari lereng perbukitan di Perumahan Villa Krista Gedawang. Tempat itu tidak begitu jauh dari rumah saya di perumahan Gedawang Permai. Dulu Brown Canyon terlihat sebagai sebuah bukit tambun yang berwarna hijau. Warna hijaunya tampak bergaris-garis karena perkebunan atau persawahan yang ada di atasnya. Sayang sekali pemandangan itu sekarang sudah tidak ada. Dulu juga belum pernah saya dokumentasikan. Mungkin ada orang yang pernah mendokumentasikan bentuk utuh bukit itu. Namun saya tidak tahu siapa.

Berbicara soal bukit. Sebagai sebuah bukit yang cukup besar, bukit yang sekarang menjadi Brown Canyon itu seharusnya memiliki nama. Sebagaimana bukit Piramida Rowosari juga memiliki nama asli Gunung Guwagogor yang berarti gunung goa anak harimau. Karena penasaran saya mencoba mencari nama asli bukit itu. Tidak seperti bukit piramida, peta zaman Belanda tidak memuat nama bukit itu. Situs yang memuat nama-nama bukit seperti Peakvisor dan Peakery juga tidak memuat nama bukit itu. Peta Zaman Belanda memang menampilkan nama-nama bukit di Semarang Selatan. Namun sayangnya, peta yang saya temukan di situs Universitas Austin di Texas hanya memuat Gunung Gowa Gogor di sisi Timur. Saya kira bukit yang menjadi Brown Canyon ini tidak masuk ke peta Belanda. Posisinya lebih jauh ke arah timur mendekati Demak. Rowosari baru masuk ke Semarang di tahun 1990an. Meskipun sudah masuk kota, daerah itu masih seperti pedesaan. Warga di sana juga tidak merasa sebagai warga kota. Peta Situs Peakery dan Peakvisor mungkin tidak menampilkan bukit ini dan nama aslinya karena sekarang sudah tidak ada.

Sigar Bencah dari Jabungan
Gambar dari pengguna Google Maps asal Jabungan yang menunjukkan Sigar Bencah di sebelah kiri, Brown Canyon sendiri tidak terlihat pada foto ini, Foto ini hanya sekedar info bahwa Brown Canyon terletak di sebelah timur tebing Sigar Bencah

Nama asli bukit ini baru saya temukan setelah menggunakan kata kunci penelusuran “Galian C Bukit Rowosari.” Agak aneh mungkin. Mungkin nama asli bukit itu sudah tenggelam oleh nama Brown Canyon. Nama asli bukit itu baru saya temukan di repositori ilmiah dari tahun 2017. Nama aslinya adalah Watu Lumbung yang artinya Batu Lumbung. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/155413 https://media.neliti.com/media/publications/81074-ID-none.pdf. Saya juga sudah berhasil menemukan peta Belanda yang menunjukkan keberadaan bukit ini. Bukit ini tidak masuk ke dalam peta topografi Semarang Selatan, tetapi Mranggen. Bukit ini bersama dengan Berbeda dari bukit-bukit lain peta Belanda malah tidak menunjukkan nama bukit ini, mungkin karena terlalu landai.

Tidak ada nama untuk bukit ini dalam peta topografi buatan Belanda. Saya bisa mengidentifikasi bukit ini pada peta karena posisinya dan adanya jalan merah yang mengelilingi bukit itu. Sampai sekarang jalan tersebut masih sama. Jalan tersebut seakrang adalah jalan dari Tembalang ke Pucanggading dan Mranggen. Jalan tersebut tampaknya dibuat mengelilingi bukit karena tidak memungkinkan untuk menembus, membelah, atau membuat jalan di atasnya pada masa lalu.Yang menarik adalah nama daerah Rawa (Rowo) Sari ternyata cuma ditulis Rawa pada peta Belanda.

Kapan tepatnya nama itu mati dan diganti “Brown Canyon”? Jawabannya ada di tebing yang kita lihat hari ini. Mari kita runut tahun ke tahun.”

BAB II: KRONOLOGI PEMBUNUHAN – EVOLUSI GALIAN 1999-2023

Saya yang lahir di akhir 1990an masih sempat menyaksikan bentuk yang relatif mendekati utuh pada tahun 2006. Saya melihatnya dari dekat tempat tinggal saya di Gedawang. Gedawang adalah sebuah kelurahan di Semarang atas, tepatnya di Kecamatan Banyumanik. Dari lereng di dekat tempat tinggal saya di Perumahan Villa Krista Gedawang, bukit ini dulu terlihat seperti bukit yang tambun. Bukit itu agak landai. Warnanya hijau dengan kotak-kotak persawahan di ujung cakrawala. Sisi utara sudah mulai berlubang, seperti di skrinsut Google Earth di atas. Sekarang bentuknya terlihat seperti dua tanduk kecil di ujung cakrawala. Sayang sekali saya tidak memiliki foto bukit yang sekarang menjadi Brown Canyon ini ketika masih relatif utuh. Oleh karena itu saya mengambil skrinsut dari Google Earth. Bentuk skrinsut yang paling mirip dengan yang saya lihat adalah di tahun 2006. Tetapi tentu saja dengan sudut pandang dari Gedawang.

Foto Satelit Brown Canyon pada 2005 orientasi utara selatan
Brown Canyon ketika masih relatif lebih utuh pada 2005
Foto Satelit Brown Canyon pada 2005
Peta yang sama dengan sudut pandang yang berbeda
Foto Satelit Brwn Canyon pada 2007
Kondisi pada 2007, inilah yang saya lihat dari arah Perumahan Villa Krista Gedawang ketika saya masih kelas 4 SD
Foto Satelit Brown Canyon pada 2010
Kondisi di Tahun 2010, ketika saya sudah SMP, bentuk bukitnya masih terlihat meskipun sudah berlubang sangat besar
Foto Satelit Brown Canyon 2012
Kondisi di tahun 2012 ketika saya masih SMA, nama Brown Canyon mulai terdengar di masa ini
Foto Satelit Brown Canyon 2014
Brown Canyon 2014, saya kelas XI semester 2 sampai kelas XII semester 1
Foto Satelit Brown Canyon 2015
Keadaan ketika sebagian besar bukit sudah hancur, ini tahun saya masuk kuliah

Brown Canyon adalah sebutan untuk sebuah bekas pertambangan pasir atau galian C di Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Nama Brown Canyon berasal dari Grand Canyon. Grand Canyon adalah nama sebuah Ngarai besar yang ada di Colorado, Amerika Serikat. Nama ini diberikan karena bentuk perbukitan yang rusak setelah ditambang dianggap mirip dengan Grand Canyon. Yang cukup mengejutkan adalah ternyata bukit ini sudah ditambang sejak tahun 1970an sebagai pertambangan rakyat. Saya mengira pertambangan itu baru dimulai awal tahun 2000an http://wargajogja.net/lingkungan/brown-canyon-dari-tambang-rakyat-jadi-tempat-wisata-merakyat.html

Saya yang lahir di akhir 1990an masih sempat menyaksikan bentuk yang relatif mendekati utuh pada tahun 2006. Saya melihatnya dari dekat tempat tinggal saya di Gedawang. Gedawang adalah sebuah kelurahan di Semarang atas, tepatnya di Kecamatan Banyumanik. Dari lereng di dekat tempat tinggal saya di Perumahan Villa Krista Gedawang, bukit ini dulu terlihat seperti bukit yang tambun. Bukit itu agak landai. Warnanya hijau dengan kotak-kotak persawahan di ujung cakrawala. Sisi utara sudah mulai berlubang, seperti di skrinsut Google Earth di atas. Sekarang bentuknya terlihat seperti dua tanduk kecil di ujung cakrawala. Sayang sekali saya tidak memiliki foto bukit yang sekarang menjadi Brown Canyon ini ketika masih relatif utuh. Oleh karena itu saya mengambil skrinsut dari Google Earth. Bentuk skrinsut yang paling mirip dengan yang saya lihat adalah di tahun 2006. Tetapi tentu saja dengan sudut pandang dari Gedawang.

Sebuah Skrinsut dari gambar yang diunggah seorang pengguna Google Maps bernama Mas John yang menampilkan gambar Brown Canyon dari Bukit Siroto di Kelurahan Jabungan pada tahun 2017

Dari yang saya baca di situ kumparan, Brown Canyon ini adalah hasil endapan material Gunung Ungaran di zaman purba. Material ini dibawa oleh sungai purba https://kumparan.com/angga-jati-widiatama/brown-canyon-sisa-endapan-sungai-purba-di-semarang-dan-sekitarnya-1t2yJdFo4dn. Entah di manakah lokasi sungai purba yang dimaksud sekarang. Meskipun tidak dijelaskan, kata sungai purba mengindikasikan bahwa sungai tersebut sekarang sudah tidak ada.

Sebagai orang yang tidak mengambil jurusan kuliah kebumian (geografi, geologi, dan geodesi), saya cukup berani berasumsi. Sungai purba yang dimaksud itu melewati Kelurahan Pudak Payung, Gedawang, dan Jabungan di Kecamatan Banyumanik. Asumsi saya bukan tidak berdasar. Tiga Kecamatan itu secara beruturan posisinya ada di lereng gunung Ungaran yang ada di Kecamatan Banyumanik. Jabungan menjadi Kelurahan yang posisinya berada di dasar lereng. Gedawang di Tengah. Pudakpayung di bagian atas lereng. Jika dilihat dengan mata telanjang, medan di Kelurahan Gedawang dan Pudakpayung sangat curam. Lembah cekungan yang panjang terbentuk dengan sungai kecil di bagian bawah. Sungai ini tepat di tengah lembah. Bisa jadi lereng cekungan lembah tersebut dulunya adalah ukuran asli sungai purba yang mengalir dari Gunung Ungaran sampai ke Tembalang. Jabungan yang posisinya paling dekat dengan kaki lereng memiliki topografi menurun yang sangat curam ke arah timur. Mungkin di situ dulu sungai purba tersebut menurun ke dataran rendah di sebelah timur Semarang bagian atas/ Kecamatan Banyumanik.

Tebing yang terdapat di sana sekarang adalah bagian batuan bukit yang tidak mampu dihancurkan oleh para penambang. Saya pernah melihat bentuk lebih utuh bukit ini dari lereng perbukitan di Perumahan Villa Krista Gedawang. Tempat itu tidak begitu jauh dari rumah saya di perumahan Gedawang Permai. Dulu Brown Canyon terlihat sebagai sebuah bukit tambun yang berwarna hijau. Warna hijaunya tampak bergaris-garis karena perkebunan atau persawahan yang ada di atasnya. Sayang sekali pemandangan itu sekarang sudah tidak ada. Dulu juga belum pernah saya dokumentasikan. Mungkin ada orang yang pernah mendokumentasikan bentuk utuh bukit itu. Namun saya tidak tahu siapa.

Berbicara soal bukit. Sebagai sebuah bukit yang cukup besar, bukit yang sekarang menjadi Brown Canyon itu seharusnya memiliki nama. Sebagaimana bukit Piramida Rowosari juga memiliki nama asli Gunung Guwagogor yang berarti gunung goa anak harimau. Karena penasaran saya mencoba mencari nama asli bukit itu. Tidak seperti bukit piramida, peta zaman Belanda tidak memuat nama bukit itu. Situs yang memuat nama-nama bukit seperti Peakvisor dan Peakery juga tidak memuat nama bukit itu. Peta Zaman Belanda memang menampilkan nama-nama bukit di Semarang Selatan. Namun sayangnya, peta yang saya temukan di situs Universitas Austin di Texas hanya memuat Gunung Gowa Gogor di sisi Timur. Saya kira bukit yang menjadi Brown Canyon ini tidak masuk ke peta Belanda. Posisinya lebih jauh ke arah timur mendekati Demak. Rowosari baru masuk ke Semarang di tahun 1990an. Meskipun sudah masuk kota, daerah itu masih seperti pedesaan. Warga di sana juga tidak merasa sebagai warga kota. Peta Situs Peakery dan Peakvisor mungkin tidak menampilkan bukit ini dan nama aslinya karena sekarang sudah tidak ada.

Nama asli bukit ini baru saya temukan setelah menggunakan kata kunci penelusuran “Galian C Bukit Rowosari.” Agak aneh mungkin. Mungkin nama asli bukit itu sudah tenggelam oleh nama Brown Canyon. Nama asli bukit itu baru saya temukan di repositori ilmiah dari tahun 2017. Nama aslinya adalah Watu Lumbung yang artinya Batu Lumbung. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/155413 https://media.neliti.com/media/publications/81074-ID-none.pdf. Saya juga sudah berhasil menemukan peta Belanda yang menunjukkan keberadaan bukit ini. Bukit ini tidak masuk ke dalam peta topografi Semarang Selatan, tetapi Mranggen. Bukit ini bersama dengan Berbeda dari bukit-bukit lain peta Belanda malah tidak menunjukkan nama bukit ini, mungkin karena terlalu landai.

Tidak ada nama untuk bukit ini dalam peta topografi buatan Belanda. Saya bisa mengidentifikasi bukit ini pada peta karena posisinya dan adanya jalan merah yang mengelilingi bukit itu. Sampai sekarang jalan tersebut masih sama. Jalan tersebut seakrang adalah jalan dari Tembalang ke Pucanggading dan Mranggen. Jalan tersebut tampaknya dibuat mengelilingi bukit karena tidak memungkinkan untuk menembus, membelah, atau membuat jalan di atasnya pada masa lalu.Yang menarik adalah nama daerah Rawa (Rowo) Sari ternyata cuma ditulis Rawa pada peta Belanda.

2023 galian mulai sepi. Tebing Brown Canyon dibiarkan menganga seperti luka yang nggak dijahit. Tapi penderitaan Watu Lumbung ternyata nggak sendirian.

Kalau kita tarik garis di peta, Watu Lumbung ini cuma satu titik di “sabuk merah” yang membentang dari Rowosari sampai Penggaron. Saudaranya yang lain namanya Gowa Gogor.

BAB III: SATU SABUK LUKA – DARI WATU LUMBUNG SAMPAI GOWA GOGOR

Watu Lumbung/Brown Canyon itu nggak sendirian. Kalau kamu buka Peta Lahan Kritis KLHK 2022, keliatan jelas: dari Rowosari, Meteseh, sampai Penggaron itu satu garis merah tua. Statusnya sama: “Sangat Kritis”. Sabuk Merah Kendeng Semarang Timur. Dari Gowa Gogor sampai Watu Lumbung, semua merah. Artinya: fungsi tanah udah rusak berat. Tutupan vegetasi <25%, erosi tinggi. 

Peta Lahan Kritis Nasional Kl
Peta Lahan Kritis Nasional Kementiran Kehutanan dan Lingkungan Hidup pada Tahun 2022, warna merah adalah lahan kritis
Peta Lahan Kritis Jawa Tengah
Sabuk Merah Semarang Timur, 2022. Sumber: KLHK.Garis merah = status “Sangat Kritis”. Dari Gowagogor Rowosari sampai Penggaron, satu punggungan tanah Latosol ini luka bareng tahun 90-an. Bedanya: Penggaron udah direboisasi jadi hutan kota, Gowagogor baru mulai ijo sendiri tapi udah kedatengan proyek jalan baru. Sayang sekali saya tidak bisa menemukan peta lahan kritis tersebut lagi dan saya menggunakan peta lain yang tersimpan di scribd.id Kualitas peta tersebut tidak begitu bagus sehingga pecah ketika saya perbesar, namun yang perlu ditekankan adalah, kawasan sekitar Rowosari-Bukit Gowagogor(Bukit Piramida)-Penggaron termasuk dalam lahan berwarna merah di dekat Semarang.  UPDATE: TERNYATA NGGAK SENDIRIAN
Pas buka Peta Lahan Kritis KLHK, baru ngeh: yang merah nggak cuma Gowagogor. Dari Rowosari, Meteseh, nyambung sampai Penggaron & Jabungan — satu punggungan Kendeng ini warnanya merah tua semua. Artinya “dosa” 90-an itu kolektif: Gowagogor dipapas buat perumahan, Penggaron dikeruk buat galian & TPA, Brown Canyon dikuliti buat urug.
2026 ini Penggaron udah mendingan karena dijadiin hutan kota. Gowagogor juga mulai ijo sendiri. Tapi di kakinya sekarang ada proyek jalan baru. Pertanyaannya: sabuk merah ini mau kita bikin ijo semua, atau merahnya kita terusin ke anak cucu?

Kenapa bisa merah bareng? Karena “dosa” 90-an-nya sama:Lokasi “Dosa” Tahun 1996-1999 Kondisi Mei 2026
Watu Lumbung Dikeruk galian C, jadi Brown Canyon Jadi tebing 50m, nambang sepi, nggak bisa ijo lagi
Gowa Gogor Dipapas buat kota satelit, mangkrak 1997 Mulai ijo alami, tapi ekskavator udah masuk lagi
Penggaron Dibabat buat TPA + galian batu Direboisasi jadi Hutan Kota Penggaron.data dari KLHK 2022 khusus Kec. Tembalang & Pedurungan:

WilayahLuas Lahan Sangat Kritis
Rowosari± 180 Ha
Meteseh± 220 Ha
Penggaron± 310 Ha
Jabungan± 95 Ha
Bukit Gowa Gogor
Foto Bukit Gowa Gogor (Bukit Piramid Rowosari Tembalang) “Saudara kandung” Bukit Watu Lumbung(Brown Canyon). Sama-sama Sangat Kritis di peta 2022. Bedanya: yang satu udah dikasih kesempatan ijo lagi 30 tahun. filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; hdrForward: 0; brp_mask:0;brp_del_th:null;brp_del_sen:null;delta:null;
module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 41;

Total Luas “Sabuk Merah” Kec. Tembalang-Pedurungan: ± 800 Hektar. Setara 1.600 lapangan bola gundul tahun 2022. Ini bukan soal 1 bukit, tapi 1 ekosistem punggungan Kendeng yang sekarat bareng-bareng.

Yang menarik: Penggaron udah ditolong manusia jadi hutan kota. Gowa Gogor ditolong waktu, ijo sendiri. Watu Lumbung? Udah nggak bisa ditolong. Batunya habis, tinggal tebing.Data KLHK 2022 bilang seluruh punggungan ini Sangat Kritis. Mata saya Mei 2026 bilang Gowa Gogor udah mendingan. Tapi Watu Lumbung? Tebingnya nggak bisa ijo lagi. Batunya udah habis.

Jadi kita kehilangan dua hal: nama Watu Lumbung di peta, dan bukit Watu Lumbung di dunia nyata.

BAB IV: PENUTUP 2026 – MAU BALIKIN NAMA ATAU BALIKIN BUKIT?

Jadi jelas, nama aslinya Watu Lumbung. Brown Canyon itu nama dagang. Mari kita kembalikan nama asli di peta dan percakapan sehari-hari. Itu bentuk penghormatan pada sejarah.Dari 1999 sampai 2023, tebing Brown Canyon terus dikuliti. Kerusakan ekologisnya parah. Galian C harus dihentikan total dan bukit ini direhabilitasi, meskipun mustahil kembali seperti dulu.Kita berhasil buktiin: nama di peta 1908 sampai 1990 itu Watu Lumbung. “Brown Canyon” baru nongol 2010-an bareng Instagram. Jadi secara toponimi, kita utang 1 nama. Nama itu bisa dibalikin. Tinggal usul ke BIG, edit Wikipedia, paksa Google Maps. Gampang.Tapi bukitnya sendiri? Dari 1999 sampai 2023 dikuliti buat tanah urug. Tebing 50 meter itu nggak bisa dibalikin. Lumbung padinya udah jadi lubang. Secara ekologi, kita utang 1 bukit. Dan utang ini nggak bisa dibayar.Mei 2026, saya lihat saudaranya: Gowa Gogor. Sama-sama Sangat Kritis di peta KLHK 2022. Bedanya, Gowa Gogor gagal jadi perumahan, jadi alamnya dikasih waktu 30 tahun buat ijo lagi. Watu Lumbung berhasil jadi tambang, jadi waktunya habis.Jadi kita mau nagih utang yang mana? Nama bisa kita rebut balik. Tapi bukitnya udah kalah. Satu-satunya cara “balas budi” ke Watu Lumbung sekarang: jangan biarkan Gowa Gogor & sisa punggungan Kendeng Rowosari-Penggaron bernasib sama.

Kalau main ke sana, sebut namanya pelan-pelan: Watu Lumbung. Biar tebing itu tau, kita masih inget. Meskipun badannya udah nggak ada.

Nama bisa dibalikin. Tinggal usul ke BIG, ganti di Google Maps, beres. Tapi bukitnya? Watu Lumbung udah jadi tebing 50 meter. Gowa Gogor udah ijo tapi ekskavator dateng lagi.

Harimau Gowa Gogor udah punah. Lumbung padi Watu Lumbung udah rata. Kita ini cuma penyewa yang telat bayar sewa ke alam, selama 30 tahun.

2026 ini sabuk Rowosari-Penggaron di titik kritis: mau diijoin semua kayak Penggaron, atau digundulin lagi kayak 1996?

Kalau main ke sana, bisikin ke tebing Brown Canyon: “Maaf, namamu Watu Lumbung.” Siapa tau dia denger.

Evaluasi Percobaan Novel Saya: “Menjadi Raja Jawa”

Sejak akhir tahun lalu saya sudah menyelesaikan novel wattpad pertama saya yang saya beri judul “Menjadi Raja Jawa” yang sebelumnya saya beri nama “Isekai Menjadi Raja Jawa”. Novel tersebut sudah saya kerjakan di wattpad pada akhir 2024 dan dilanjutkan kembali pada pertengahan dan akhir 2025.https://www.wattpad.com/story/379970046-menjadi-raja-jawa. Novel ini memang saya buat di sela-sela waktu mencari pekerjaan (termasuk tes dan kursus untuk pekerjaan) dan mengikuti beberapa pelatihan. Tadinya saya memberinya nama “Isekai Menjadi Raja Jawa” karena cerita “Isekai“(pindah alam) belakangan ini sedang tren di dunia manga dan manhwa serta anime. Tetapi setelah saya pikir lagi judul tersebut kurang tepat karena karakter utama di dalam novel saya tidak benar-benar pindah alam tetapi hanya keluar masuk ke masa lalu lewat alam mimpi. Tema “Isekai” atau pindah alam memang sedang menjadi tren di Asia Timur yaitu di Jepang, Tiongkok,dan Korea Selatan, yang diawali oleh Jepang, makanya tren ini disebut sebagai “isekai“yang merupakan istilah Bahasa Jepang. Tren yang tadinya hanya ramai di kalangan pecinta anime dan manga asal Jepang ini kemudian semakin meluas setelah ditiru oleh manhua (komik Tiongkok), manhwa (komik Korea), Drakor, dan Dracin. Sehingga semakin banyak juga orang Indonesia yang menyukai tema ini sampai membuat novel dan komiknya, terutama di webtoon, sebuah platform komik online asal Korea Selatan yang digemari oleh kalangan remaja dan anak muda. Tema “Isekai” sendiri bercerita tentang orang bernasib malang yang pindah ke alam lain atau masa lalu setelah meninggal atau koma atau sekedar mengelami kecelakaan tanpa diketahui nasibnya di dunia nyata. Tetapi intinya tokoh di genre ini masuk ke alam lain setelah suatu kecelakaan. Yang mana itu tidak terjadi pada tokoh utama di cerita saya.

Saya sendiri terinspirasi untuk membuat novel ini setelah membaca beberapa manhwa dan komik lokal bertemakaan pindah alam ini di platform webtoon. Ada cukup banyak manhwa yang saya baca di sana dan beberapa komik lokal buatan kreator Indonesia yang menginspirasi saya membuat novel ini dan sebagian memang adaptasi dari novel online wattpad. Untuk webtoon luar yang paling menonjol dan saya baca sampai tuntas adalah “I Will Live the Life of a Villainess”sedangkan untuk webtoon lokal ada “Ken Dedes”, “The Chronicle of Menak Jinggo”, dan Dorm Du.

Dorm Du bukan webtoon “Isekai” namun cerita seorang gadis berkerudung bernama Agrin yang masuk ke alam gaib berupa sebuah sekolah besar yang megah seperti istana bernama Dorm Du dengan murid-murid makhluk gaib dengan wajah seperti orang Eropa di zaman kuno. Yang mana sekolah tersebut adalah sekolah aneh yang mengajarkan berbagai kekerasan dan perilaku buruk kepada para muridnya dan para murdi itu akan mendapat poin jika berhasil melakukan perbuatan jahat kepada sesama murdi di sana. Yang sebenarnya sekolah tersebut pada awalnya memang sebuah kerajaan jin Eropa yang damai namun berubah menjadi sekolah kejahatan dan para jin di sana kebanyakan lupa ingatan setelah kedatangan jubah hitam yang merupakan kaki tangan rajanya sendiri. Jadi Agrin si tokoh utama tidak tewas atau koma setelah kecelakaan teapi hanya salah masuk alam ketika akan berangkat sekolah di rumah barunya. Agrin tidak bisa keluar dari alam itu meskipun sudah sering berdoa karena alasan yang belum dijelaskan. Sehingga satu-satunya pilihannya adalah melawan si jubah hitam dengan mencari tahu kebenaran di balik Dorm Du

Sedangkan “I Will Live the Life of a Villainess” (Aku akan Menjalani Kehidupan Sebagai Seorang Wanita Jahat) adalah manhwa webtoon paling populer tahun 2024-2025, ini juga manhwa yang membuat saya memutuskan untuk menginstal kembali webtoon di hp saya setelah terakhir kali memilikinya di tahun 2018. Ceritanya cukup seru bahkan sampai melibatkan politik sehingga saya tertarik untuk membacanya meskipun sebenarnya webtoon ini lebih ditujukan untuk pembaca perempuan. Ceritanya soal seseorang karyawati yang didorong sampai mati oleh kakaknya sendiri dan terbangun sebagai tokoh novel bernama Edith Righloff, seroang bangsawan wanita jahat yang menikah dengan Clift seorang bangsawan juga karena permainan politik keluarganya. Ada juga cerita webtoon luar lain yang mirip dengan kisah seseorang masuk ke dalam sebuah cerita novel sebagai seorang wanita jahat yang bertunangan dengan seorang pangeran jahat. Tokoh utama di dalam kedua cerita tersebut melakukan antisipasi terhadap jalannya cerita karena sudah tahu cerita tempat mereka masuk dan melakukan banyak perubahan termasuk dengan mengubah kepribadian tokoh yang mereka perankan. Kemudian ada satu manhwa lagi yang bukan bertemakan pindah alam tetapi tentang seorang putri bangsawan elf (peri dalam mitolodgi barat) yang dicintai oleh seorang raja yang jahat yang merupakan teman masa kecilya. Cinta raja tersebut sudah beaner-benar tidak masuk akal sampai menjadi obsesi yang tidak sehat.

Kemudian ada komik webtoon lokal Ken Dedes, yang bercerita tentang seorang mahasiswi sejarah yang masuk ke masa lalu sebagai Ken Dedes ketika tertidur setelah bingung memikirkan ide untuk skripsinya. Di komik ini pengarangnya juga melawan arus dengan lebih bersimpati pada sosok Tunggul Ametung daripada Ken Arok (Shri Rajasanagara)yang di dalam sejarah arus utama diletakkan sebagai protagonis. Komik webtoon lokal ini mengambarkan Ken Arok sebgai sosok yang licik, ambisius, dan manipulatif. Sedangkan “The Chronicle of Menak Jinggo” menceritakan tentang beberapa siswa SMA bernama Danu, Mario, Mayang, dan maaf yang satunya lagi saya lupa masuk ke permainan seperti game buatan Bethara Kala dan para dewa-dewi Hindu Jawa/Pewayangan Jawa di zaman Majapahit untuk memperpanjang umur mereka. Meskipun judulnya Menak Jinggo tetapi mereka muncul di masa lalu sebagai teman-teman dan anak buah Damarwulan dan Ratu Kencana Wungu. Dan ada satu lagi komik webtoon lokal yang bercerita tentang seroang gadis yang masuk ke zaman Majapahit di masa Prabu Hayam Wuruk ketika sedangberkunjung ke Trowulan sehingga ia mengacaukan perjodohan antara Prabu Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka Citraresmi dari Pajajaran. Dan ada juga komik webtoon lokal “The Red Sinden” yang menceritakan sosok karyawati yang ditempeli sosok jin jahat berwujud sindan berkebaya merah yang selalu meminta tumbal.

Semua komik tersebut dan masih ada sedikit komik lain yang ceritanya hampir mirip membuat saya memutuskan untuk menulis novel wattpad berjudul “Menjadi Raja jawa”. Yang isinya mengandung unsur-unsur dari komik-komik webtoon tersebut, sedangkan alasan saya menggunakan platform wattpad adalah karena komik webtoon yang terakhir yang bercerita tentang zaman Hayam Wuruk tadinya adalah novel online di Wattpad.Selain itu wattpad juga memberikan kemudahan akses bagi apra pembaca. Memang sempat ada kenalan saya dari Jakarta yang memberi saran kepada saya untuk mengikuti sebuah kompetisi novel di Jakarta namun pemberitahuan itu terlambat dan novel yang diikutkan harus belum pernah dipublikasikan dalam bentuk cetak maupun online.

Unsur-unsur dari cerita-cerita di atas adalah :1.Masuk ke alam lain; 2. Menjadi tokoh jahat; 3. Orang yang malang; 4. Dan Mengubah alur cerita yang sudah ada yang seharusnya dijalani oleh si tokoh jahat.

Novel saya tidak memilih cara pindah alam yang permanen namun hanya keluar dan masuk lewat mimpi. Cara mimpi mirip dengan komik Ken Dedes namun tidak permanen seperti “The Chronicle of Menak JINGGO”. Namun dengan mekanisme yang tidak saya jelaskan dengan detail. Si tokoh utama dalam novel saya sempat tidak mau masuk ke dalam masa lalu lewat mimpi karena menganggap itu gangguan setan. Ia mencoba melawannya dengan doa-doa tetapi gagal sebagaimana tokoh Agrin dalam komik Dorm Du. Alasannya tidak saya jelaskan dengan gamblang tetapi pembaca bisa mengambil kesimpulan bahwa sosok yang diperankan si tokoh utama itu terlalu kuat dan mungkin saja di masa lalu lebih paham agama karena sering pindah-pindah pondok pesantren bahkan dalam cerita versi saya juga alumni Istanbul. Saya juga menyerahkan kepada pembaca untuk menganggap sosok tersebut setan, jin, jin qarin, ataru arwah leluhur. Tetapi tokoh utama di novel saya cenderung menganggap tokoh itu setan atau jin qarin. Hal ini saya lakukan karena cerita saya mengambil latar waktu zaman Mataram Islam yang dikenal memiliki sinkretisme agama yang kuat dalam bentuk kejawen, meskipun sya sendiri seorang puritan. Dan memang bisa jadi novel saaya dibaca oleh orang-orang dengan berbagai latar belakang agama dan kepercayaan. Saya sendiri berpandangan seperti tokoh utama di dalam novel saya, dan itulah pandangan umum di dalam agama saya.

Saya memilih tokoh yang tidak main-main untuk diperankan oleh tokoh utama di dalam novel. Beliau adalah Susuhunan Amangkurat Agung /Amangkurat I/Amangkurat Tegal Arum putra dari Sultan Agung Hanyokrokusumo yang dianggap sebagai sebab keruntuhan Mataram Islam dan penyebab Tanah Jawa dijajah oleh Belanda. Sejauh sepengetahuan saya 100 persen ahli sejarah di Iindonesia mengatakan bahwa beliau adalah orang jahat. Sehingga pemilihan beliau sebagai sosok yang dieprankan oleh tokoh utama di novel saya sudah sangat tepat. Jika komik Ken Dedes mengambil peranan utama sebagai sosok wanita yang terjepit di antara Tunggul Ametung yang brutal dan Ken Arok yang licik dan manipulatif.

Saya mengambil pertaruhan atau resiko yang lebih besar dengan memakai tokoh yang sama liciknya dengan Ken Arok dan tidak kalah brutal dengan Tunggul Ametung. Ken Arok masih punya sisi positif karena melawan raja yang zalim yaitu Prabu Kertajaya atau Prabu Dandang Gendhis yang mengaku dewa dan meminta agar disembah para Brahmana. Dan berbeda dari kebanyakan komik webtoon luar yang biasanya mengambarkan adanya tokoh agama yang jahat, misalnya seperti di komik “Asha Pervaz” dan “Ashtarte”. Susuhunan Amangkurat I di dalam sejarah dikatakan justru menajdi pihak yang jahat kepada para tokoh agama. Sekalipun tidak sampai meminta untuk disembah para agamawan seperti Kertajaya. Dan perlu diingat Dinasti Mataram Islam juga mengaku sebagai keturunan Majapahit yang memiliki darah Ken Arok dan Tunggul Ametung

Adapun tentang unsur orang yang bernasib malang baik tokoh utama di dalam novel saya maupun sosok yang dia perankan, yaitu Susuhunan Amangkurat I di dalam novel saya sama-sama memiliki nasib yang malang. Susuhunan Amangkurat I di novel saya memiliki beberapa trauma yang menyebabkan masalah pada pemerintahannya. Yaitu kematian kakeknya dari sisi ibu dan kematian kekasih pertamanya sebagai trauma terbesar. Yang mana hal ini menyebabkan beliau memiliki kecenderungan paranoid dan obsesi kepada wanita. Dalam versi novel saya ada sebuah plot twist bahwa ternyata Susuhunan Amangkurat I di masa mudanya adalah sosok lain yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia khususnya Jawa dalam sebuah cerita rakyat tentang kisah cinta yang tragis. Sedangkan kakek dari sisi ibunya meninggal pada pengepungan Batavia kaerna dieksekusi oleh panglima perang Mataram yang lain. Nasib malang Susuhunan Amangkurat I ini memberikan sisi manusiawi bagi seorang tiran sekaligus menambah kengerian dan sisi thriller dari novel saya. Novel saya bukanlah novel “pindah alam” yang menyenangkan, yang tokohnya mendapatkan kemudahan di dunia baru baik berupa kekuatan baru maupun mendapatkan banyak wanita. Tokoh utama di novel saya memang mendapatkan kemudahna sebagai seorang raja dan punya banyak istri namun semua itutidak dapat dinikmati karena sautu pantangan dan beratnya beban yang dihadapi. Apalagi di dalam novel saya trauma Susuhunan Amangkurat I malah mempengaruhi kepribadian dan cara berpikir tokoh utamanya. Dan di akhir cerita sang tokoh utama gagal mengubah sejarah.

Untuk mengubah alur cerita, tokoh utama di novel saya juga berusaha untuk melakukan itu. Ada beberapa perubahan yang dilakukan seperti tidak menghabisi para ulama yang menentang kebijakannya, mencegah adik tirinya memberontak, tidak menghabisi para pejabat senior, mencegah Perang Pancirebonan (Banten vs Cirebon), menyerang Buleleng di Bali, menunda perjanjian damai dengan Belanda, mengangkat Trunojoyo sebagai anak angkat, tidak merebut roro Hoyi dari Amangkurat II, tidak mengeksekusi keluarga Pangeran Pekik, serta berusaha untuk menjalin hubungan diplomatik yang lebih baik dengan Makassar, Palembang, Banjarmasin, dan Banten. Namun semaunya gagal mengubah akhir cerita Kerajaan Mataram Islam era Plered. Kegagalan sang tokoh utama muncul karena hal-hal yang tidak dia ketahui dan tidak berada di dalam kendalinya. Terlebih lagi dia keluar dan masuk ke masa lalu secara agak acak.

Gambar sampul yang saya pesan dari seniman gambar digital dari Jawa Barat. Saya membayar RP.50.000 untuk gambar sampul ini. Seniman tersebut juga punya akun wattpad, dan nama akun wattpad senimannya Randurian. Gambar ini cukup bagus, tetapi secara insidental malah membuat gambar Susuhunan Amangkurat I menjadi lebih mirip Orang Belanda. Saya hanya meminta agar dibuatkan gambar Orang Jawa sedang naik kuda, mengacu kepada hobi berkuda Amangkurat I.Dan saya meminta agar di belakangnya diberi gapura candi bentar sebagai gerbang istana. Saya sudah mengirimkan gambar lukisan Susuhunan Amangkurat I ke seniman digital tersebut, dan saya meminta agar gaya gambarnya disesuaikan dengan gaya gambar modern, mungkin karena perimntaan saya itulah wajahnya malah mirip jadi Orang Belanda. Saya sudah bayar masa tidak dipakai, ya sudah saya pakai saya, sekalian produk ketidak sengajaan ini menjadi foreshadowing kalau Tanah Jawa akhirnya tetap dijajah oleh Belanda. Dan juga Amangkurat I juga dikenal pro-Belanda. Tetapi memang menurut catatan Orang Belanda, Amangkurat I memiliki wajah yang tegas dan tubuh yang sangat lencir. Yang mana ini hal ini sepertinya cukup jarang di Orang Jawa. Deskripsi ini menjadi misteri tersendiri bagi saya, karena saya tahu di versi Babad Tanah Jawi, Ki Juru Martani leluhur dari Ratu Batang, Ibu Amangkurat I punya leluhur non-Jawa. Tetapi di versi lain Orang Jawa asli.

Secara teknik mungkin ada beberapa kesalahan yang saya buat sehingga cerita ini mungkin terkesan membosankan di beberapa bagian, terutama di bagian awal yang mungkin seharusnya bisa menjadi pemantik agar pembaca tertarik. Di bagian awal ada beberapa bab yang isinya memang lebih seperti menuliskan ulang beberapa bagian dari buku sejarah lama milik kakek saya ataupun dari Babad Tanah Jawi Online. Bab-bab ini dibuat secara berselang-seling atau bergiliran dengan cerita sang tokoh utama masuk ke masa lalu melalui mimpi.Sebenarnya ini adalah cara “elegan” saya untuk menutupi kekurangan pengetahuan saya atas era tersebut. Sehingga di awal novel sang tokoh utama terlihat melakukan riset sejarah kecil terhadap kehidupan yang akan dia jalani di masa lalu di dalam alam mimpi. Kekurangan informasi inilah yang juga coba saya tupi dengan cara membuat sang tokoh utama novel in masuk ke dalam masa lalu di garis waktu yang melompat-lompat. Tokoh utama saya hanya masuk ke masa lalu di garis waktu yagn sudah saya ketahui. Hal ini jugalah yang membuat adanya beberapa “plot hole” di dalam cerita dan beberapa petensi cerita yang tidak digali. Misalnya soal kasus Bupati Jepara dan Bupati Pati yang tiba-tiba saja berakhir dengan eksekusi. Ketidaktahuan saya juga saya samarkan dengan beberapa kejadian yang tidak diketahui oleh tokoh utama selama di masa lalu dalam alam mimpi. Misalnya soal penyiksaan tawanan Blambangan untuk uji coba senjata tajam yang memicu pemberontakan mereka. Pemberontakan tawanan Blambangan ini saya jadikan sebagai ganti pembantaian 6000 ulama di sejarah asli sebagai upaya mengubah sejarah dari tokoh saya di novel saya. Tokoh utama di novel saya tidak tahu bahwa para bawahannya melakukan percobaan senajta menggunakan orang hidup dari para tawanan Blambangan yang juga diperintahkan untuk membantu pengembangan senjata. Yang ia tahu ia hanya memina para empu dan tawanan Blambangan menggunakan kemapuan dan pengetahuan metalurginya untuk membuat berbagai senjata baru. Hal ini memang terjadi di dunia nyata teapi tidak jelas, yang ada hayalah catatan Belanda soal Amangkurat I yang mengumpulkan banyak besi untuk membuat banyak senjata dan adanya catatan bahwa ada tawanan Blambangan yang dikenal sakti dan kebal dijadikan obyek uji coba senjata.Tetapi saya pikir “Plot Hole” ini mugkin masih bisa diterima karena novel ini juga semi misteri.

Sisi lain yang kurang saya kembangkan adalah petualangan Amangkurat I ketika masih muda di Sumatera. Yang muncul di novel saya adalah tokoh utama yang berperan sebagai Amangkurat I tiba-tiba sudah berpindah ke Istanbul. Cerita saya ini sebenarnya sebuah pengembangan dari Babad Ila-Ila buatan Raden Suhatmaka serta digabungkan dengan cerita Saridin Bedhahing Ngerum asal Pati. Babad Ila-Ila adalah sebuah naskah Babad dari Pura Mangkunegaran Solo, babad ini agak baru dan tidak seterkenal Babad Tanah Jawi. Buku ini sangat berbeda dengan sejarah mainstream yang mengatakan Amangkurat I itu jahat. Sepertinya buku ini adalah upaya mikul duwur mendem jero dari Pura Mangkunegaran. Namun saya sendiri tahu sebagian isi dari buku dari komentar-komentar jaringan budayawan Pak Purwadi dari Solo di internet. Saya sendiri belum pernah bertemu dengan anggota jaringan budayawan tersebut tetapi saya mengambil sebagian plot dari komentar-komentar mereka. Ada juga orang yang memasukkan riwayat pendidikan Amangkurat I dari buku tersebut menjadi sebuah berita. Saya secara pribadi juga ragu dengan isinya sebab di situ Amangkurat I dinyatakan pernah belajar sosiologi di Universitas Teknik Istanbul, Demografi di Singapura, dan Planologi di Paris. Yang mana Universitas Tekntik Istanbul baru ada tahun 1800an setelah Tanzimat atau reformasi di Turki Utsmani, dan begitu juga ilmu sosiologi juga baru ada di tahun 1800an. Apalagi antara Universitas Teknik dan Sosiologi itu jelas rumpun ilmu yang berbeda. Satunya rumpun eksakta, sedangkan yang satunya rumpun sosial-humaniora. Kalau zaman sekarang sudah dituduh ijazah palsu ini wkwkwkkw. Wah malah jadi politik, tetapi ya memang saya memilih judul “Menjadi Raja Jawa” karena sebutan “Raja Jawa” sedang populer di dunia politik, yang mana itu juga dikaitkan dengan suatu kejadian ketika Pak Jokowi memakai kostum Raja Surakarta, yang juga dianggap identik dengan Amangkurat I. Saya tidak bermaksud menyindir pemerintah tetapi ini cara promosi saya, sehingga semisal ada yang mencari berita politik malah nyasar ke novel saya wkwkwkkw. Karena alasan ini jugalah saya lebih memilih untuk menggunakan ejaan “Purbaya” daripada “Purboyo” untuk salah satu tokoh penting di novel saya. Karena siapa tahu ada orang yang nyasar ke kovel saya ketika mencari berita tentang Menkeu Purbaya wkwkw.

Nah kembali ke bagian petualangan yang gagal saya garap, pada Babad Ila-Ila dikisahkan Amangkurat I sempat menempuh pendidikan Demografi di Singapura yang sebenarnya juga belum ada. Tetapi para budayawan lingkaran Pak Purwadi dan Keraton Solo pernah beberapa kali terlihat berkomentar menceritakan petualangan Amangkurat I di Sumatera. Masalah saya adalah saya terlalu tergesa-gesa membuat novel ini sehingga ada bagian yang belum sempat dieksplor. Kalau dilihat dari kronologi pendidikan Amangkurat I yang disebarkan oleh para teman-teman Pak Purwadi maka masuk akal jika Sumatera diletakkan di novel sebelum Istanbul, karena kalau secara logika pun, kalau ingin ke Timur Tengah dari Jawa naik kapal harus ke Sumatera dulu. Soal kisah Amangkurat I di Istanbul saya melakukan modifikasi terhadap kisah Saridin atau Syaikh Jangkung dari Pati. Di dongeng aslinya Syaikh Jangkung atau Saridin atau Kyai Haji Syarifudin pernah pergi ke Negeri Rum atau Turki bersama dengan Sultan Agung untuk mencari putri Sultan Agung yang diculik oleh Sultan Rum. Di sini saya mengubahnya menjadi, tidak ada putri Sultan Agung yang diculik tetapi Saridin dikirim untuk menjemput Amangkurat I yang melarikan diri setelah dihukum buang dari keraton terkait skandal dengan calon selir Tumenggung Wiroguno. Ya, novel saya tidak menyebutnya istri atau selir karena di suatu bacaan laam yang pernah saya baca disebut sebagai calon selir. Babad Ila-Ila dengan misi mikul duwur mendem duwurnya menempatkan semua hal positif pada diri Susuhunan Amangkurat I yang tentu saja sulit untuk dipercaya dan kalau saya adopsi begitu saja akan membuat cerita saya tidak menarik. Tidak bisa dipercaya karena logikanya sederhananya, kalau Susuhunan Amangkurat I begitu baik dan hebat, tentu Tanah Jawa tidak akan dijajah oleh Belanda karena kesalahan beliau. Sementara dari segi cerita, membuat cerita yang mengubah sejarah Susuhunan Amangkurat I menjadi sepenuhnya baik akan dipandang sebagai “Jawasentrisme” yang membabi buta. Kalau saya buat tidak kalah seperti di sejarah mungkin nanti ada orang-orang di luar Jawa yang berkomentar “apa-apaan, kerajaannya bubar kok dibuat berjaya, Orang Jawa ngayal”. Karena saya pernah menemukan komentar di fesbuk dari orang luar Jawa yang sudah tua. Yang mana komentar tersebut menuduh Orang Jawa membuat propaganda lewat film Tutur Tinular karena kesaktian Pedang Naga Puspa itu tidak masuk akal. Padahal jelas-jelas cerita Tutur Tinular dan Pedang Naga Puspa itu fiktif dan tidak pernah dinyatakan oleh pengarangnya maupun pemerintah sebagai kisah nyata. Dan saya juga akan dianggap seratus persen menjiplak Babad Ila-Ila. Untuk mengatasi masalah itu, saya membuat karakter utama saya memerankan sosok Susuhunan Amangkurat I yang masih manusiawi, punya visi hebat, cerdas, tetapi tidak tahu segalanya dan masih mempunyai banyak kekurangan dan kelemahan.

Pada akhir cerita semua usaha tokoh utama yang masuk ke masa lalu melalui mimpi, yang mungkin juga bisa dipahami sebagai retrokognisi atau astral projection /ngraga sukma oleh sebagian pembaca mengalami kegagalan. Mataram pada akhirnya juga hancur, dan Amangkurat II bersektutu dengan Belanda. Mungkin cukup di sini self-review saya agar tidak membocorkan terlalu banyak cerita. Kelemahan lain dari novel saya adalah kurangnya dialog sehingga di beberapa bagian pembaca hanya membaca beberapa paragraf narasi yang panjang. Dan ada bagian yang terlalu cepat di-spill di depan yaitu soal Amangkurat I ternyata di masa muda dikenal sebagai sosok yang lain. Tadinya saya mencoba melakukan “foreshadowing” tetapi itu tampaknya malah terlalu jelas karena tanpa sadar saya malah mengikuti pola menyusun hipotesis di dalam penelitian ilmiah. Jadi mungkin berkurangnya unsur kejutan ini turut mengurangi minat pembaca. Bagian lain yang belum tereksplor adalah hubungan antara Amangkurat I dengan ibunya sendiri yaitu Ratu Batang. Saya juga menghindari mengembangkan hubungan antara Amangkurat I dan Sultan Cirebon serta Adipati Sumedang karenanya kurangnya data. Padahal geopolitik dan geostrategi kerajaan Nusantara pada abad 17 merupakan salah satu topik utama dalam cerita novel ini.

Bagian yang paling berat justru ada di bagian akhir novel ini, yaitu ketika tokoh utama novel ini dipaksa membuat sebuah janji oleh sosok yang mengaku sebagai Amangkurat I. Dia diminta untuk membuat pernyataan bahwa Amangkurat I adalah Khalifatullah Ing Tanah Jawi wa Dzilullah fil ard. Perlu diingat saya tidak meyakini orang yang sudah meninggal bisa menjadi perantara doa, apalagi sosok yang mengaku sebagai orang yang sudah meninggal itu yang meminta pengakuan sejenis dari orang yang masih hidup. Dialog itu sebenarnya hanya suatu sindiran atas sistem yang otoriter dan kenyataan bahwa sampai saat ini kita tidak bisa lepas dari pemerintahan yang kejam, meskipun katanya sudah hidup di era demokrasi.

Secara cerita, sebenarnya saya membuat ending ini dengan meniru film Jerman yang berjudul “Look, Who’s Back” dan beberapa horor Turki khususnya Siccin yang menampilkan jin yang bisa menyerang balik peruqyah dengan bacaan doa. Di sisi saya meniru konsep percakapan antara Fabian Sawatzki dan Adolf Hitler di ujung film Look Who’s Back. Pada adegan tersebut Fabian Sawatzki selaku orang yang telah menemukan dan mempopulerkan Hitler setelah Hitler terteleportasi ke masa depan menyesal. Dia menyesal bahwa Hitler yang dia populerkan di televisi itu ternyata Hitler yang asli. Dia pun marah dan menodong Hitler di atas atap sebuah gedung. Dia berdebat dengan Hitler soal kekejamannya. Dan Hitler di film itu pun menjawab dengan jawaban yang pada intinya berarti “Saya tidak pernah membodohi masyarakat Jerman dengan propaganda, mereka mengikuti dan memilih saya sebagai pemimpinnya secara sadar dan mereka setuju dengan saya.” Lalu Sawatzki yang tidak terima menembak Hitler dan menyebabkannya mati terjatuh ke bawah. Namun begitu terkejutnya Sawatzki karena setelah ia berbalik ternyata Hitler sudah ada di belakangnya. Seolah-olah mengatakan bahwa sosok seperti Hitler akan terus ada selama sistem dan masyarakatnya mengizinkan. Hingga akhirnya diketahui bahwa Sawatzki di adegan tersebut yang merupakan “Film di dalam film” adalah pemeran pengganti karena Sawatzki yang asli sudah masuk RSJ semenjak tahu bahwa Hitler yang dia kira pemeran sejarah dan dia populerkan itu adalah Hitler yang asli.

Itulah yang mau saya sampaikan di ending novel saya, masyarakat Indonesia yang katanya sudah berdemokrasi ini ternyata masih feodal dan memberikan kesempatan kepada calon-calon wakil rakyat dan kepala daerah, dan bahkan jabatan yang lebih tinggi lagi, yang programnya kurang baik hanya karena termakan propaganda rendahan atau diberi sedikit uang. Adapun yang saya maksud propaganda murahan adalah ketika calon pemimpin dan wakil rakyat berpura-pura menjadi sosok yang religius atau menampilkan pencitraan sebagai sosok yang religius agar dipilih oleh rakyat padahal aslinya sangat jauh dari agama. Itulah yang saya sindir di bagian akhir ketika sosok yang mengaku sebagai Amangkurat I membawa Kitab Ahkamul Sulthaniyah karangan Al Marwadi. Ketika mengatakan bahwa menggugat kebijakan dan pemerintahannya sama saja dengan menggugat takdir Tuhan. Dan akhirnya tokoh utama di novel saya kalah dan mengakui Amangkurat I sebagai Khalifatullah Ing Tanah Jawi wa Dzilullah fil Ardh.

Pola tokoh utama kalah dengan sosok setan ini saya tiru dari horor Turki seperti Siccin, sebagai pengambaran kondisi masyarakat kita yang tidak berdaya menghadapi realita kekuasaan karena orang-orang yang kurang pendidikan memberikan kesempatan kepada para kandidat yang juga kurang pendidikan untuk menang. Hal ini saya sindir dengan keras seolah-olah seperti orang yang sudah kehilangan iman karena diganggu setan dan akhirnya malah menjadi pengikut setan. Yang mana setannya itu juga menggunakan dalil-dalil agama dan kitab-kitab ulama. Yang ironisnya justru ini memang ada di kitab Ahkamul Sulthaniyah dan ucapan para ulama seperti Imam Al Ghazali dan Ibnu Qayyim “pemimpin itu cerminan rakyat” dan “Kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian.” Yang artinya perbaikan tidak akan muncul selama masyarakatnya sendiri belum dicerdaskan.

Saya sendiri khawatir dengan ending ini. Sebab bisa saja para pembaca mengartikan saya mengajak mereka untuk melakukan kesesatan. Oleh karena itulah saya membuat klarifikasinya di sini kalau-kalau ternyata novel saya jadi terkenal.

Ke depannya saya harap saya bisa membuat novel yang lebih baik di sela-sela “jeda nganggur” saya.wkwkwkwk

Di sini saya sudah mencoba untuk mengabungkan setidaknya genre fiksi sejarah, supranatural, mistis, politik, aksi, dan thriller.

Sebab Amangkurat I (CukuP) Dihormati di Tegal

Sunan Amangkurat I selaku Raja Mataram memiliki sejarah yang kontroversial yang sampai sekarang masih diperdebatkan seperti pembantaian 6000 ulama, perjanjian damai dengan Kompeni Belanda,penghancuran peradaban maritim, Ratu Malang, dan perebutan Roro Hoyi dengan Pangeran Adipati Anom atau Amangkurat II. Sejarah resmi dari catatan Belanda dan babad-babad mainstrem seperti Babad Tanah Jawi dan Babad Momana mencatat berbagai perilaku buruk tersebut. Sementara pihak keraton Solo dan budayawan yang bernama Pak Purwadi menolak cerita-cerita tersebut dan mengatakan bahwa itu adalah sejarah yang dibelokkan. Pihak Keraton Solo dan Pak Purwadi mengatakan bahwa Sunan Amangkurat I adalah seorang raja yang saleh, berbeda jauh dari sejarah mainstream. Kata mereka dulu jenazah Sunan Amangkurat I tidak dikubur melainkan di taruh di dalam peti kaca sampai tahun 1970an. Dan katanya jenazahnya wangi serta kuku dan rambutnya masih tumbuh sehingga setiap tahun ada upacara pemotongan kuku dan rambut. Pihak Keraton Solo dan Pak Purwadi mengatakan bahwa klaim mereka itu berdasarkan pada Babad Ila-Ila karya Raden Suhatmoko yang kurang mainstream. Selain itu masih ada beberapa orang termasuk beberapa konten kreator yang mengatakan hal yang serupa, termasuk beberapa konten kreator dari Tegal. Saya pernah menyaksikan video konten kreator asal Tegal yang menziarahi Makam Tegal Arum dan mengatakan bahwa di masa kecil ia pernah melihat jenazah Sunan Amangkurat I yang masih utuh. Konten kreator tersebut dan beberapa konten kreator yang lain menyatakan bahwa sebenarnya selama masa pemerintahannya Sunan Amangkurat I juga berusaha untuk melawan Belanda dengan keras, katanya semua rencana Belanda gagal karena sudah diketahui terlebih dahulu oleh Sunan Amangkurat I. Dan karena itulah Belanda sengaja membelokkan sejarahnya. Orang-orang tersebut juga mengatakan bahwa penutupan pelabuhan-pelabuhan di Pesisir Utara Jawa sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda.

Saya pribadi percaya memang Sunan Amangkurat I berusaha melawan Belanda dengan diplomasi dan perdagangan. Dari beberapa seri tulisan di Republika Online karya Pak Priyantoro Umar, dikatakan bahwa sebenarnya Sunan Amangkurat I pernah mencoba melawan Belanda dengan monopoli. Yaitu dengan memaksa Belanda hanya membeli komoditas beras, garam, dan kayu jati kepada Kerajaan Mataram, bukan lewat pedagang atau saudagar “swasta”. Menurut artikel-artikel tersebut, Sunan Amangkurat I bertujuan agar Belanda mau tidak mau harus membeli komoditas-komoditas tersebut dari Kerajaan Mataram dengan harga yang sangat tinggi. Tetapi rencananya tersebut gagal karena Bupati Pati malah menjual harga komoditas-komoditas tersebut dengan lebih murah agar dagangannya cepat laku. Alasan dari Bupati Pati melakukan itu adalah Sunan Amangkurat I memberikan modal sebesar 10.000 real Spanyol kepada Bupati Semarang, Demak, Jepara, dan Pati dan mereka diberi target untuk segera mendapatkan keuntungan dua kali lipat dalam jangka waktu tertentu. Perbuatan Bupati Pati itu pun mengagagalkan rencana Sunan Amangkurat I. Bupati Pati itu dimutasi ke Surabaya dan akhirnya diekseksusi karena suatu kasus.

Bupati Jepara yang dulunya seorang penjaga Gudang Pusaka juga dieksekusi karena terkesan mengemis kepada Belanda. Yaitu ketika meminta kuda untuk dijadikan hadiah kepada Sunan Amangkurat I. Bupati Jepara tersebut juga pernah menawarkan hak memungut cukai atau tol laut kepada Belanda. Dan pernah juga memberikan kayu di Hutan Mandalika kepada Belanda. Padahal kayu-kayu tersebut seharusnya hanya digunakan untuk kapal perang Kerajaan Mataram.Sebabnya adalah Belanda tidak mau membayar cukai atau tol laut. Akhirnya ia mengizinkan Belanda memakai kayu di hutan tersebut agar Belanda mau membayar cukai atau tol laut. Sungguh perilaku yang aneh karena seharusnya ia melapor kepada rajanya bahwa Belanda tidak mau membayar cukai. Mungkin dia ingin rajanya senang Belanda membayar cukai padahal dirinya ditipu oleh Belanda.

Kedua bupati tersebut beserta bupati Semarang dan Demak juga melakukan kesalahan yang sama dalam perintah Sunan Amangkurat I untuk memenuhi target keuntungan tersebut. Pada masa itu Malaka dan Maluku sudah dikuasai oleh Belanda. Dan Belanda melarang Orang Jawa berdagang di sana. Para bupati tersebut tertipu oleh rumor yang disebarkan oleh pedagang China teman Belanda bahwa Orang Jawa sudah boleh berdagang di sana. Sehingga mereka membeli komoditas perdagangan yang laku di kedua tempat itu agar bisa dijual di sana. Yang akhirnya harus berakhir dengan kekecewaan karena rumor tersebut terbukti bohong dan sepertinya memang dibuat Belanda untuk menyesatkan. Mereka yang sudah kehilangan modal dan belum bisa balik modal akhirnya malah berhutang kepada Belanda dan uangnya disetor ke Sunan Amangkurat I.

Ya entah ini bupatinya yang terlalu payah atau Belandanya yang terlalu licik. Tetapi bisa disimpulkan bahwa rencana Sunan Amangkurat I itu gagal total karena ketidakkompetenan anak buahnya. Mungkin ini karena para bupati tersebut tidak biasa berdagang. Apalagi Bupati Jepara yang memang jelas bukan pedagang dan latar belakangnya adalah abdi dalem di Kraton Mataram yang bisa disimpulkan tidak mengenal perdagangan. Bisa dibilang kegagalan ini karena Sunan Amangkurat I sudah memaksakan “BUMNisasi” dengan mematikan pedagang swasta dan “BUMN”nya tersebut tidak kompeten. Hal ini bisa kita hubungkan dengan corak Kerajaan Mataram sendiri yang merupakan kerajaan pedalaman bercorak agraris. Bisa jadi para pejabat tersebut semuanya memang bukan orang pesisir dan bukan pedagang. Hal ini juga bisa kita lihat dengan sudut pandang modern bahwa negara yang terlalu ikut campur perdagangan atau ekonomi bisa hancur kalau orang-orangnya tidak kompeten. Ya tidak jauh-jauh bedalah dengan BUMN-BUMN di zaman kita ini. Hal ini juga bisa kita pandang dengan ajaran leluhur Kerajaan Mataram sendiri yaitu Ki Ageng Selo, yang di dalam pepalinya pernah mengatakan “jangan menjadi pedagang” dan “jangan menjadi orang kikir karena orang kikir tidak akan bisa berkembang.”Begitu juga dengan ucapan Sultan Agung yang mengatakan “Aku bukanlah pedagang seperti Sultan Banten”. Sunan Amangkurat I sudah melanggar dua pepali tersebut karena negara menjadi pedagang dan negara bukan hanya sudah menjadi kikir tetapi juga sudah mematikan rezeki orang lain yang berprofesi sebagai pedagang antar pulau. Negara yang terlalu mengurusi perdagangan juga bisa kacau mungkin maksudnya adalah negara fokus ke urusan negara saja dan tidak perlu berdagang cukup memungut cukai saja.

Jadi bisa dibilang Sunan Amangkurat I pada awalnya tidak benar-benar pro Belanda karena beliau masih melakukan upaya perlawanan terhadap Belanda secara ekonomi. Hanya saja memang strategi yang beliau pilih itu salah karena mematikan perdagangan dan pelayaran rakyat serta dijalankan oleh abdi-abdinya yang sebenarnya tidak kompeten. Di sini saya tidak membela beliau secara keseluruhan tetapi membela hak beliau dalam perkara dituduh menjadi antek Belanda sejak awal. Anggap saja saya ini pengacara dan beliau ini “klien” saya. Saya hanya membela beliau di kasus ini. Beliau memang memiliki “hak hukum” yang masih bisa dibela. Sedangkan untuk kasus Roro Hoyi dan Ratu Malang, saya tidak berkomentar.

Terlepas dari segala kontroversi yang ada, sebenarnya Sunan Amangkurat I cukup dihormati di Tegal. Orang lain yang mengatakan Sunan Amangkurat I adalah orang baik adalah almarhum Ki Enthus Susmono mantan Bupati Tegal. Beliau pernah mengatakan akan mengenang perjuangan Amangkurat I dalam sebuah wawancara yang dimuat di Koran Suara Merdeka. Hanya saja wawancara tersebut untuk sementara waktu belum saya temukan arsipnya. Namun jelas Ki Enthus Susmono punya jejak atas penghormatannya kepada Amangkurat I, yaitu mengubah nama Pendopo Kabupaten Tegal yang tadinya bernama Pendopo Ki Gede Sebayu menjadi Pendopo Sunan Amangkurat I. Hal ini senada dengan pernyataannya yang secara samar-samar saya ingat dulu pernah tercantum di Suara Merdeka. Maaf saya memang tidak benar-benar ingat pernyataan beliau tetapi saya ingat beliau menyebut kata “perjuangan”.Yang berarti beliau meyakini bahwa sejarah Sunan Amangkurat I versi mainstream itu salah.

Tentunya pengubahan nama Pendopo Kabupaten Tegal tersebut bukan tanpa kontroversi. Karena ada juga yang menolaknya dengan alasan rekam jejak sejarah beliau yang buruk https://www.indonesiana.id/read/168048/paling-tepat-pendopo-kabupaten-tegal-itu-bernama-pendopo-ki-gede-sebayu-bukan-sunan-amangkurat. Tetapi sepertinya ini suara minor karena baru muncul di tahun 2023 dan sampai sekarang pun nama pendopo tersebut belum dikembalikan menjadi Ki Gede Sebayu lagi. Perlu diketahui Ki Enthus selaku Bupati Tegal yang mengganti nama pendopo tersebut sudah meninggal pada tahun 2018. Sedangkan perubahan nama tersebut terjadi pada 2015, yang artinya sudah 15 tahun tanpa ada perlawanan. Tampaknya citra Sunan Amangkurat I di Tegal memang positif atau minimal netral. Hal ini sangat mungkin karena Tegal bukanlah daerah yang merasakan kebijakannya yang menghancurkan perdagangan di pesisir. Babad Ila-Ila yang dikutip oleh Keraton Solo dan Pak Purwadi menyatakan bahwa Amangkurat I membangun akademi kemaritiman di Tegal, dan membuat pabrik garam serta pabrik terasi. Sebuah klaim yang sebenarnya anakhronistik karena pabrik modern belum ada di masa itu. Namun Kota Tegal memang dikembangkan oleh Sultan Agung menjadi kota pelabuhan dan industri kuno (industri zaman itu) bersama dengan Portugis. Bukan oleh Amangkurat I. Meskipun demikian bisa dibilang Mataram memiliki citra yang baik di Tegal dan pesisir Utara Jawa bagian barat secara umum. Karena Mataramlah yang mengembangkan daerah ini,Tegal memang didirikan oleh Ki Gede Sebayu, tetapi mulai dikembangkan secara pesat di zaman Sultan Agung.Begitu juga Kendal, Pekalongan, dan Batang yang diketahui secara luas didirikan oleh abdi Mataram, Bahurekso. tidak seperti Pesisir Utara Jawa Tengah bagian timur dan Pesisir Utara Jawa Timur yang menjadi korban kebijakan penghancuran kapal dan galangan kapal serta penutupan pelabuhan.

Template Surat-Surat Yang Bisa Digunakan dalam Kasus Galian C DAS Kalibabon

Melihat kembali karakter sungai-sungai di Jabungan dan Kalikayen yang saya tulis di atas, ada kecemasan mendalam yang muncul hari ini. Karakter tanah yang labil dan sungai yang dalam bukan sekadar fitur geografi, melainkan sebuah “benteng alam” yang secara historis melindungi kemandirian wilayah ini dari intervensi luar. Namun kini, benteng itu terancam runtuh oleh oleh alat-alat berat Galian C. Penambangan pasir dan batu di sungai-sungai ini adalah bentuk “penggusuran memori”. Jika tebing-tebing ini dikeruk dan dasar sungai didangkalkan demi komoditas, kita bukan hanya kehilangan daya dukung lingkungan, tetapi juga menghancurkan “Arsitektur Perlawanan” yang telah menjaga identitas warga Jabungan-Kalikayen selama berabad-abad.

“Dulu, wilayah Kalikayen dan Kali Babon dijuluki sebagai ‘Sarang Penyamun’. Namun sejarah membuktikan bahwa pelabelan itu hanyalah alat bagi penguasa untuk membungkam perlawanan.Hari ini, polanya berulang. Sejak 2010, alat berat mengeruk rahim bumi Kali Babon tanpa henti. Enam kepemimpinan daerah datang dan pergi, namun mereka semua kompak: Bisu terhadap kerusakan ini. Setiap kali warga berteriak melalui layar ponsel, dalam 12 jam suara mereka ‘diculik’ secara digital. Konten di-take down, jejak dihapus. Inilah Anatomi Seorang Tiran versi modern—di mana algoritma digunakan untuk menciptakan amnesia massal.: Stigma Kalikayen sebagai “desa penjahat”digunakan untuk membungkam keluhan warga. Logika penguasa: “Untuk apa mendengarkan keluhan orang-orang dari ‘sarang penyamun’?” Ini adalah bentuk degradasi harga diri yang sengaja dipelihara agar warga merasa tidak punya hak moral untuk melawan.

Kemampuan men-take down konten dalam 12 jam menunjukkan mereka memiliki akses ke “Agensi Reputasi” atau tim siber.

Mass Reporting: Mereka menggunakan bot atau pasukan bayaran untuk melaporkan unggahan warga dengan dalih “pelanggaran hak cipta” atau “ujaran kebencian.”

Sensor Digital: Jika sebuah konten hilang secara konsisten, ada kemungkinan mereka memiliki “orang dalam” di tingkat moderator platform atau menggunakan jasa pihak ketiga yang memang spesialis dalam online reputation management (pembersihan jejak digital).

Tujuan: Untuk memastikan narasi “Pusat” (Pemerintah/Tambang) tetap bersih, sementara suara “Pinggiran” (Warga/Kalikayen) tetap dianggap sebagai gangguan administratif yang tidak valid.

Melihat rentang waktu sejak 2010 dan kemampuan mereka melintasi enam kepemimpinan daerah. Kekuatan para penambang ilegal di Kali Babon ini bukan lagi sekadar “premanisme lokal,” melainkan sebuah Sistem Oligarki Kecil yang telah mengakar.Mereka ingin kita lupa bahwa di balik keruh air Babon, ada Watu Ulo yang memperingatkan tentang ancaman kehancuran.

“Saya menyediakan draf ini karena banyak warga yang mengeluh di lapangan tapi tidak tahu cara menulis surat resmi.”

Template ini bisa diunduh, diubah namanya, dan dikirimkan oleh siapa saja, baik secara individu maupun kelompok (seperti Karang Taruna atau Kelompok Tani).

Cara Menggunakan Surat Ini:

  1. Salin dan Tempel: Copy teks di atas ke dalam aplikasi Word atau Google Docs.
  2. Isi Bagian yang Kosong: Pastikan mengganti teks di dalam kurung siku [...] dengan data yang sesuai.
  3. Kirim Secara Kolektif: Surat akan jauh lebih kuat jika ditandatangani oleh lebih dari satu orang (misal: Kelompok Tani atau Karang Taruna).
  4. Gunakan Jalur Resmi: Kirimkan melalui loket surat instansi terkait atau melalui aplikasi laporan warga resmi (seperti LaporHendi di Semarang atau sejenisnya).

Template 1: Surat Aspirasi Modernisasi Pertanian

(Ditujukan kepada: Dinas Pertanian dan Pangan Kota/Kabupaten)

Perihal: Aspirasi Masyarakat terkait Pengembangan Kawasan Pertanian Berkelanjutan di Lembah Babon

Yth. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan [Nama Kota/Kabupaten],

Melalui surat ini, kami/saya sebagai bagian dari masyarakat yang peduli terhadap ketahanan pangan di wilayah Lembah Babon (Jabungan-Kalikayen), ingin menyampaikan aspirasi mengenai potensi transformasi pertanian di wilayah kami.

Mengingat kondisi geografis kami yang strategis namun menghadapi tantangan lingkungan yang besar, kami mengusulkan adanya program Modernisasi Pertanian Terpadu. Hal ini didasari oleh kebutuhan warga akan alternatif ekonomi yang lebih stabil dan ramah lingkungan dibandingkan sektor ekstraksi yang ada saat ini.

Kami memohon agar Dinas Pertanian dapat meninjau potensi pemberian bantuan berupa:

  1. Pembangunan infrastruktur irigasi cerdas (pompa tenaga surya) untuk mengatasi penurunan debit air.
  2. Pelatihan diversifikasi tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi.
  3. Fasilitasi akses pasar langsung bagi petani lokal untuk memutus rantai tengkulak.

Besar harapan kami agar aspirasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program kerja Dinas ke depan demi terwujudnya kedaulatan pangan warga.

Hormat kami, [Nama Pengirim/Kelompok Masyarakat]

https://docs.google.com/document/d/1n-D4aKjWdmaguXC8FP59d255etYViLqZDUZgSJ8hOj8/edit?usp=sharing

Template 2: Surat Audiensi/Laporan Dampak Lingkungan

(Ditujukan kepada: Dinas Lingkungan Hidup / Satpol PP)

Perihal: Permohonan Peninjauan Dampak Lingkungan dan Kerusakan Infrastruktur di DAS Kali Babon

Yth. Kepala Dinas Lingkungan Hidup [Nama Kota/Kabupaten],

Kami menulis surat ini sebagai bentuk kepedulian warga terhadap kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Babon. Akhir-akhir ini, kami mengamati adanya degradasi lingkungan yang signifikan yang berdampak pada:

  1. Menurunnya kualitas dan kuantitas air permukaan untuk irigasi warga.
  2. Kerusakan infrastruktur jalan desa akibat beban transportasi alat berat.
  3. Ancaman longsor di titik-titik pemukiman sekitar bantaran sungai.

Kami memohon pihak Dinas terkait untuk melakukan peninjauan lapangan (sidak) dan memberikan edukasi serta solusi bagi warga agar tidak terus terjebak dalam aktivitas yang merusak alam demi kebutuhan ekonomi sesaat. Kami sangat mendukung adanya penegakan aturan yang dibarengi dengan solusi ekonomi alternatif bagi masyarakat kecil.

Demikian permohonan ini kami sampaikan sebagai bagian dari partisipasi publik dalam menjaga ekosistem daerah.

Hormat kami, [Nama Pengirim/Warga Peduli Lingkungan]

https://docs.google.com/document/d/1TMN6WOFTcizEDFlS4bsqqLg9KQxocj1Dug2NVBuNtjU/edit?usp=sharing

Template 3: LAPORAN INFORMASI (LI) DUGAAN TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP

Kepada Yth. Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK Up. Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabalnusra)

I.PERIHAL Laporan dugaan aktivitas penambangan tanpa izin (Galian C) di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Babon dan perusakan bentang alam Kawasan Watu Ulo, Kecamatan Tembalang/Banyumanik, Kota Semarang.

II.POSISI KASUS

1.Aktivitas Ilegal: Adanya kegiatan pengerukan material sungai secara masif di Sungai Babon yang diduga tidak memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Persetujuan Lingkungan (AMDAL/UKL-UPL);

2.Dampak Kerusakan: Terjadinya degradasi struktur Sungai, peningkatan resiko banjir bagi warga hilir (Jabungan & Meteseh), serta ancaman perusakan terhadap situs batuan purba Watu Ulo yang merupakan merupakan warisan Geologi;

3.Pembiaran Administratif: Aktivitas telah berlangsung secara terbuka namun tidak ada Tindakan penegakan hukum (enforcement) yang efektif dari otoritas daerah setempat, yang mengindikasikan adanya pelanggaran Pasal 112 UU No.32/2009 terkait pembiaran oleh pejabat berwenang.

III.DASAR HUKUM

  • Pasal 98 Ayat (1) UU No.32 Tahun 2009: Terkait perbuatan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup;
  • Pasal 109 UU NO.32 Tahun 2009 (Jo.UU Cipta Kerja): Terkait usaha/ kegiatan tanpa perizinan berusaha.
  • UU No.26 Tahun 2007: Terkait pelanggaran pemanfaatan Ruang (RTRW).

IV.BUKTI PENDUKUNG

  1. Dokumentasi foto/video alat berat di Lokasi Sungai Babon;
  2. Koordinat Lokasi (Google Maps);
  3. Tautan artikel riset Sejarah & Geologi (WordPress): [Link Worpress seabgai bukti nilai penting Kawasan;
  4. Dokumentasi perbandingan visual hilangnya bukit (Watu Lumbung/Brown Canyon) sebagai bukti pola kerusakan yang terus berulang.

V.PERMOHONAN

Memohon kepada pihak Gakkum KLHK untuk segera melakukan Verifikasi Lapangan (Pulbaket) dan melakukan Operasi Penertiban serta penyegelan (Pemasangan Garis PPLH) guna mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas dan tidak dapat dipulihkan (irreversible damage).

Pelapor (bisa disamarkan sebagai masyarakat peduli lingkungan)

Catatan: Sungai Babon adalah sungai yang melintasi tiga wilayah administratif (Kota Semarang dan Kabupaten Semarang serta Demak). Masalah lintas wilayah biasanya membuat KLHK lebih mudah untuk mengambil wewenang.

Tembusan: Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah

Template 4 :Draf Surat Keberatan Administratif (Somasi)

Perihal: Keberatan Administratif dan Permohononan Perlindungan Kawasan Warisan Geologi serta Penghentian Aktivitas Penambangan Ilegal di DAS Sungai Babon & Kawasan Watu Ulo.

Kepada Yth, Walikota Semarang/ Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang/ Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X di Tempat.

Dengan Hormat,

Saya, [Nama], warga Kota Semarang sekaligus praktisi hukum, dengan ini menyampaikan keberatan administratif atas pembiaran aktivitas penambangan (Galian C) di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Babon serta ancaman kerusakan permanen pada situs Watu Ulo (Mluweh-Jabungan) yang memiliki nilai Geologi dan historis tinggi.

Dasar Keberatan dan Tuntutan Hukum:

1.Pelanggaran UU.No.23 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup: Aktivitas penambangan di Sungai Babon diduga kuat beroperasi tanpa izin lingkungan (AMDAL/UKL-PL) yang sah dan telah merusak ekosistem Sungai. Berdasarkan Pasal 66, setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata;

2.Urgensi UU.No.11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya: Kawasan Watu Ulo dan sekitarnya merupakan kesatuan bentang alam Sejarah Perang Jawa. Berdasarkan Pasal 31 Ayat (5), selama proses pengkajian, obyek yang didaftarkan sebagai Cagar Budaya wajib dilindungi dan diperlakukan sama sebagai Cagar Budaya;

3.Pelanggaran UU.No.26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang: Penghancuran Gunung Lumbu (Watu Lumbung, sekarang Brown Canyon) dan ancaman terhadap Watu Ulo mengindikasikan adanya ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang.

Oleh karena itu, saya menuntut Pemerintah Kota Semarang untuk:

1.Melakukan Audit Lingkungan segera terhadap seluruh izin Galian C di wilayah Semarang Selatan;

2.Menetapkan Status Quo pada Kawasan Watu Ulu guna mencegah kerusakan lebih lanjut oleh aktivitas ekstraktif maupaun pengembang perumahan;

3.Memproses Penetapan Kawasan Geopark/Cagar Budaya sebagai langkah pelestarian jangka Panjang.

Apabila keberatan ini tidak dilanjuti dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja, saya akan mempertimbangkan langkah hukum lebih lanjut, termasuk namun tidak terbataspada pelaporan dugaan mal-administrasi ke Ombudsman RI dan Gugatan Citizen Lawsuit.

Dengan demikian keberatan ini saya sampaikan untuk menjaga kelestrian hidup dan martabat daerah Semarang.

Hormat saya,

[Nama]

Memulihkan Rahim Bumi: Mimpi Kedaulatan di Balik Debu Kali Babon

Proposal Ringkas: Restorasi Kedaulatan Agraria Lembah Babon

Judul Program: “Mengembalikan Martabat Watu Ulo dan Kali Babon: Transformasi Ekonomi Berbasis Pertanian Cerdas di Kali Babon”

Di antara deru mesin ekskavator yang mengoyak dasar Kali Babon dan debu truk yang menyesakkan jalanan Jabungan hingga Kalikayen, ada satu pertanyaan yang terus mengusik batin kita: Sampai kapan kita harus memakan tanah kita sendiri?

Dalam tulisan sebelumnya, kita telah melihat bagaimana sejarah dan trauma membentuk lembah ini. Kita melihat bagaimana “tiran” tidak lagi butuh pedang untuk menaklukkan kita; mereka cukup menciptakan kemiskinan yang memaksa kita merusak sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan. Menambang pasir ilegal mungkin memberi kita uang untuk hari ini, namun ia sedang mencuri air untuk anak cucu kita di masa depan. https://ndawang.wordpress.com/2018/07/19/sungai-sungai-jabungan-kalikayen-dan-sekitarnya/

Namun, mengutuk kegelapan tidaklah cukup. Kita butuh sebuah lilin.

Tulisan kali ini adalah sebuah Proposal Mimpi. Sebuah tawaran untuk merebut kembali martabat kita sebagai penguasa tanah, bukan lagi sebagai buruh pengais sisa-sisa pasir. Saya merangkum sebuah gagasan tentang Modernisasi Pertanian—bukan untuk menjadikan kita asing dengan sawah, melainkan untuk menjadikan sawah kita lebih tangguh dari sekadar lubang tambang.

Ini adalah tentang bagaimana teknologi irigasi cerdas dan pertanian terpadu bisa memberikan “uang harian” yang selama ini hanya kita dapatkan dari menambang. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa di masa depan, Kali Babon bukan lagi saksi bisu kehancuran, melainkan saksi kembalinya kejayaan para petani yang bermartabat.

Kepada siapapun di luar sana, warga lembah yang mungkin lelah dengan debu dan kecemasan: Tulisan ini adalah milik kalian. Mari kita baca, kita diskusikan secara senyap, dan kita simpan sebagai benih perlawanan yang suatu saat akan tumbuh.

1. Latar Belakang & Masalah

Aktivitas Galian C ilegal di Kali Babon bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan kegagalan sistemik dalam menyediakan alternatif ekonomi yang layak bagi warga. Saat ini, warga terjebak dalam pola pikir ekstraktif karena:

  • Ketidakpastian hasil tani akibat teknologi tradisional.
  • Rantai distribusi yang dikuasai tengkulak.
  • Kebutuhan akan arus kas harian (daily cash) yang hanya dipenuhi oleh tambang.

2. Pilar Modernisasi (Solusi Konkret)

Untuk menghentikan tambang, kita tidak bisa hanya melarang; kita harus menawarkan “kemudahan” yang setara atau lebih baik dari menambang.

A. Teknologi Produksi: “Smart Irrigation & Green Housing”

  • Aksi: Pembangunan pompa air tenaga surya (solar cell) untuk mengatasi kesulitan air akibat pendalaman dasar sungai oleh tambang.
  • Tujuan: Memastikan warga bisa bertani sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim, memberikan stabilitas yang menyerupai pendapatan tambang.

B. Diversifikasi Ekonomi: “Integrated Farming”

  • Aksi: Menggabungkan pertanian hortikultura (sayur/buah bernilai tinggi) dengan peternakan atau budidaya ikan.
  • Tujuan: Sektor peternakan (telur/susu) menyediakan pendapatan harian, sementara tanaman menyediakan pendapatan besar bulanan. Ini adalah jawaban langsung bagi warga yang butuh uang harian dari menambang.

C. Akses Pasar: “Digital Hub Babon”

  • Aksi: Memotong jalur tengkulak dengan menghubungkan kelompok tani langsung ke konsumen kota atau restoran di Semarang melalui platform digital.
  • Tujuan: Meningkatkan harga jual di tingkat petani sehingga martabat ekonomi warga pulih.

3. Nilai Filosofis (Kaitan dengan Riset)

Program ini adalah upaya “Repolishing the Inner Mirror” (Menggosok Kembali Cermin Batin). Dengan bertani secara modern, warga tidak lagi melihat tanah sebagai komoditas yang dikeruk lalu ditinggalkan, melainkan sebagai “Rahim” yang harus dirawat untuk keberlanjutan hidup.

4. Target Capaian (Goals)

  1. Ekonomi: Peningkatan pendapatan warga sebesar 30-50% dibanding menjadi buruh tambang.
  2. Lingkungan: Penurunan aktivitas tambang ilegal secara sukarela oleh warga karena beralih profesi.
  3. Sosial: Menghidupkan kembali kolektivitas kelompok tani sebagai “Arsip Hidup Perlawanan” terhadap konversi lahan beton.

Penutup Proposal

“Ketika cangkul lebih menguntungkan daripada sekop penambang, saat itulah sang tiran ekonomi kehilangan kuasanya atas rakyat Lembah Babon.”

“Tulisan ini adalah draf riset akademis dan kajian budaya. Ide-ide di dalamnya dimaksudkan untuk diskusi pengembangan desa secara mandiri.”